Berita

Bentokan di pub London/Repro

Dunia

Bentrok Di Pub London Saat Polisi Bubarkan Ratusan Orang Yang Minum Bersama, Tujuh Orang Ditangkap

SABTU, 19 DESEMBER 2020 | 08:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kericuhan terjadi di Hackney Wick, London, saat petugas berusaha membubarkan pertemuan massal yang melanggar aturan kesehatan. Tujuh orang ditangkap petugas sementara yang lainnya membubarkan diri setelah sebelumnya melakukan perlawanan.

Sebuah video yang direkam warga menunjukkan kerumunan besar orang-orang, yang sebelumnya melakukan pertemuan dengan minum-inuman keras, berusaha melawan ketika polisi berusaha mengamankan lokasi itu.

"Situasi saat ini di Hackney Wick. Ratusan orang bertemu dan minum bersama dan pasukan polisi bersiap-siap untuk menghentikan pertemuan ilegal itu," ujar seseorang dalam rekaman video, dikutip dari Daily Star, Jumat (18/12).


Rekaman yang dibagikan di Twitter itu menunjukkan belasan petugas polisi membentuk barikade dan menghentikan orang-orang yang melewati mereka di dekat stasiun Hackney Wick.

Warga di sekitar kejadian menerangkan bahwa pertemuan besar itu bukan berasal dari warga lokal yang tinggal di daerah tersebut.

Para saksi memperkirakan kelompok itu mungkin adalah pelancong dari Wallis Road. Mereka sangat gaduh.

Seorang juru bicara Kepolisian Metropolitan mengatakan kepada Daily Star, bahwa aparat menapat panggilan ke White Post Lane, Hackney Wick pada pukul 15:15 pada Kamis, 17 Desember setelah sekelompok besar orang berkumpul di sebuah pub.

"Petugas terlibat pertengkaran dengan kelompok itu karena tidak bersedia dibuburkan dan melawan. Banyak dari kelompok itu yang mencoba mendorong petugas," ujar juru bicara itu.

Tujuh orang ditangkap karena pelanggaran di bawah peraturan perlindungan kesehatan. Dalam kejdian itu tidak ada laporan yang cedera.

Insiden itu terjadi hanya 24 jam setelah London berada di bawah pembatasan ketat virus korona Tingkat 3 pada hari Rabu, dengan pub dan restoran tutup di seluruh ibu kota menjelang liburan Natal.

Juru bicara Perdana Menteri Boris Johnson sebelumnya mengatakan, hal itu dilakukan untuk mengurangi tingkat penularan dan mengurangi tingkat R di daerah dengan prevalensi tinggi.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya