Berita

Umat ​​Muslim di Mumbai memegang spanduk Presiden China Xi Jinping selama protes November 2020 terhadap perlakuan Beijing terhadap minoritas Uighur/Net

Dunia

Kelompok Muslim AS Kecewa OKI Belum Ambil Tindakan Soal Dugaan Penindasan Etnis Uighur

JUMAT, 18 DESEMBER 2020 | 06:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kelompok Muslim AS menyuarakan kekecewaannya pada Kamis (17/12) waktu setempat. Mereka memohon kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk angkat bicara terkait dugaan penahanan massal China terhadap etnis Uighur.

Dalam pernyataannya, koalisi organisasi Muslim AS termasuk Council on American-Islamic Relations menuduh negara-negara anggota OKI takut dengan kekuatan China.

"Sangat jelas, China memiliki cengkeraman ekonomi di dunia Muslim dan mampu mengisolasi setiap negara Muslim ke dalam ketakutan. Bahkan, memberikan basa-basi untuk perjuangan Uighur," kata Omar Sulieman, seorang sarjana Muslim Amerika dan aktivis hak asasi dalam konfernsi pers virtual, seperti dikutip dari AFP, Jumat (18/12).


"Sementara beberapa negara Muslim akan memberikan basa-basi untuk tujuan seperti perjuangan Palestina," katanya, menambahkan bahwa tentang masalah Uighur, China akan terus melakukan penindasan.

Juru kampanye Uighur Americana, Rushan Abbas, memperingatkan bahwa negara-negara dapat melihat ekspor kebijakan yang menargetkan Muslim ketika China mengejar inisiatif pembangunan infrastruktur Belt and Road yang besar.

"China memiliki rekam jejak dalam membeli dan menindas. Genosida orang Uighur bukanlah masalah internal China, tetapi masalah kemanusiaan," kata Abbas, yang mengatakan bahwa aktivismenya menyebabkan China menahan saudara perempuannya.

OKI yang terdiri dari 57 negara mayoritas Muslim dan sering menangani kasus-kasus di mana mereka percaya Muslim dianiaya, mengkritik Israel dan, atas perintah Pakistan, India.

Namun, mereka menilai kelompok yang bermarkas di Arab Saudi itu hingga kini belum menyuarakan kekhawatiran atas wilayah barat Xinjiang, China, di mana kelompok hak asasi mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang Uighur dan Muslim ditahan di kamp-kamp sebagai bagian dari upaya untuk membasmi adat istiadat Islam dan mengintegrasikan komunitas secara paksa.

Alih-alih melakukan tindakan tegas, dalam resolusi Maret 2019, OKI justru memuji upaya Republik Rakyat China dalam memberikan perawatan kepada warga Muslimnya setelah mereka melakukan kunjungan delegasi.

Sejauh ini China menggambarkan kamp-kamp itu sebagai pusat pelatihan kejuruan dan mengatakan bahwa upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi ekstremisme Islam.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya