Berita

Bendera Australia/Net

Dunia

Australia Akan Seret China Ke WTO

KAMIS, 17 DESEMBER 2020 | 06:02 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Australia akan mengadukan China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kesewenang-wenangan  memberlakukan tarif tinggi pada jelai Australia awal tahun ini. Menteri Perdagangan Simon Birmingham mengatakan ia sedang mencari bantuan dari WTO atas keputusan China itu.

"Ini adalah langkah logis dan tepat yang diambil Australia," kata Birmingham, seperti dikutip BBC, Rabu (16/12)

"Kami sangat yakin bahwa berdasarkan bukti, data, dan analisis yang telah kami kumpulkan, Australia memiliki alasan yang sangat kuat untuk menaikkan kasus ini," lanjutnya.  


Pada bulan Mei, China memberlakukan tarif 80 persen untuk jelai Australia. Tarif, yang berlaku selama lima tahun itu, secara efektif merugikan para produsen Australia hingga 1,9 miliar dolar AS.

Ini adalah pertama kalinya Australia menyeret China ke wasit independen atas komoditas pertanian.

Birmingham mengakui penyelesaian sengketa lewat WTO bisa memakan waktu lama untuk mencapai jalan keluar. Namun, menurutnya, akan selalu ada peluang.

Selain jelai, China telah memberlakukan sejumlah sanksi resmi dan tidak resmi pada barang-barang Australia tahun ini karena hubungan antara kedua negara memburuk.

China telah melarang sejumlah impor Australia yang berbeda termasuk daging sapi, anggur, kayu, lobster, barley, dan yang terbaru adalah sengketa batu bara.

Dia menambahkan bahwa tindakan Beijing telah meningkatkan risiko berbisnis dengan China bagi perusahaan di seluruh dunia.

Meengenai sengketa batu bara, baru-baru ini lebih dari 50 kapal yang membawa batu bara Australia telah tertahan di dekat pelabuhan China. Mereka tidak bisa mendarat karena otoritas melarang dan mengumumkan tidak akan menurunkan pengiriman tersebut.

Sebuah laporan Global Times awal pekan ini mengatakan bahwa Komisi Pembangunan & Reformasi Nasional China pada hari Sabtu tampaknya meresmikan pembatasan pada batu bara setelah memberikan persetujuan pembangkit listrik untuk mengimpor komoditas tersebut tanpa batasan, kecuali dari Australia.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya