Berita

Habib Rizieq Shihab/Net

Publika

HRS-FPI, Kekuasaan Jokowi Dan Kita

SELASA, 15 DESEMBER 2020 | 12:52 WIB

RANGKAIAN tulisan ini dimaksudkan untuk menjaga ingatan dan literasi publik terkait dinamika yang dihadapi oleh HRS dan FPI dalam bersinggungan dengan kekuasaan.

Tahukah Anda, keberadaan HRS dan FPI, sejak awal kemunculannya sudah berurusan dan bergesekan dengan kekuasaan? Pertama, FPI menyerang pusat-pusat maksiat, maka penguasa ekonomi berbasis kriminal dan kekerasan ekstra hukum, terganggu. Kemudian HRS-FPI menyadari tidak bisa terus-terusan sebagai pemadam kebakaran. Bakar satu basis maksiat, timbul basis baksiat baru.

Lantas FPI sampai pada kesimpulan, agar pekerjaan tidak jadi tukang pemadam kebakaran, lalu ikut mendorong penegakan syariat Islam yang langsung dipegang dan dioperasikan oleh negara secara konstitusional.


Pada tahun 2000-an awal, FPI pun ikut mendorong ditengok kembali Piagam Jakarta 1945 guna diimplementasikan. Tapi bagi penguasa status quo di Indonesia, hal ini tidak dapat diterima. Maka dorongan FPI ini juga oleh anggota DPR ditinggalkan begitu saja. FPI pun beralih ke peran awalnya semula: amar ma'ruf nahi munkar.

Tahun 2006, majalah porno Playboy dari AS diumumkan akan diterbitkan dan diedarkan di Indonesia. Tentu saja FPI langsung padamkan. Akibatnya majalah maksiat itu padam dan gagal bertahan. Pada 2008, terjadi apa yang dikenang sebagai insiden Monas. Terjadi bertepatan pada 1 Juni 2008, hari lahir Pancasila.

Pada waktu itu, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang berisi beragam lembaga dan aktivis pluralisme, melakukan kampanye akbar di Monas. Mereka menentang aksi FPI yang membubarkan aktivitas Ahmadiyah di Parung.

FPI dan Forum Umat Islam juga menentang kampanye tersebut. Akibatnya bentrok tak terhindar. Konflik FPI vs AKKBB berbuntut panjang hingga mengerahkan polisi dalam jumlah besar ke Petamburan. Hasil akhirnya, HRS dan Munarman yang kala itu sebagai Panglima Laskar FPI dibui. HRS sendiri divonis 1,5 tahun.

Tapi keberhasilan paling dikenang dari gerakan mobilisasi FPI, yaitu Aksi Bela Islam 14 Oktober 2016, 4 November 2016 dan 2 Desember 2016. Kenyataan berkumpulnya massa yang diperkirakan mencapai jutaan orang itu, suatu hal yang ajaib.

Hal itu juga menepis asumsi selama ini bahwa HRS hanya didukung sekelompok kecil kaum radikal. Dan faktanya, HRS merupakan tokoh sentral dari aksi massa yang merontokkan Ahok dari panggung kekuasaan, meskipun semua orang tahu, bahwa dia diback up oleh Presiden dan kekuatan-kekuatan besar lainnya.

Sebenarnya, kemunculan Jokowi yang bergandengan dengan Ahok dalam pemerintahan DKI dari 2012-2014, telah menimbulkan reaksi dari FPI. Semua orang menyadari bahwa Jokowi hanyalah alat untuk memuluskan Ahok menjadi Gubernur di suatu basis Muslim seperti Jakarta. Dan FPI tentu merasa tidak beres dengan hal tersebut.

Pada akhirnya Jokowi terangkat menjadi Presiden, secara otomatis Ahok menjadi Gubernur DKI. Bukannya santun dan simpatik, Ahok melancarkan komunikasi publik yang intimidatif dan represif. Maka FPI pun melancarkan perlawan dengan aksi massa yang ajek.

Mulai dari Aksi Massa Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) yang dibidani oleh FPI mengangkat Almarhum KH. Fachrur Rozy Ishak sebagai Gubernur Rakyat Jakarta hingga rally aksi massa dengan semboyan Aksi Bela Islam 1410, 411 hingga 212 yang diperluas dengan pembentukan GNPF MUI.

Bagaimana pun, adalah kenyataan seluruh gerakan FPI itu telah menyinggung kekuasaan Jokowi. (Bersambung).

Syahrul Efendi Dasopang
Ketua Umum PB HMI MPO 2007-2009.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya