Berita

Habib Rizieq Shihab/Net

Publika

Sungguh Berat Beban HRS

KAMIS, 10 DESEMBER 2020 | 17:05 WIB

PADA tahun 2001, saya bikin skripsi. Sebagai mahasiswa yang tidak mau sekedar bikin penelitian yang hanya memenuhi tugas akhir, saya ambil topik tentang FPI dan Perjuangan Pemberlakuan Syariat Islam di Indonesia.

Untuk penelitian ini, saya bersama Sobri Lubis - kini Ketua Umum DPP FPI - dibawa ke rumah Habib Rizieq Shihab (HRS) yang terpencil di bilangan Petamburan.

Jauh sebelum rumah HRS seperti sekarang yang relatif luas dan mudah diakses, dulu untuk sampai ke pintu depan rumah HRS, saya akan melewati gang yang cukup panjang dan sempit.


Tiba di akhir gang, barulah ketemu rumah HRS yang di beranda sebelah kanannya terdapat perpustakaan yang waktu itu banyak dengan buku-buku, dari berbahasa Indonesia dan Arab.

Saya nginap di perpustakaan itu ditemani seorang yang berkhidmat kepada HRS. Tujuannya agar memenuhi standard kren penelitian, yaitu observasi langsung dan partisipatoris. Biar nggak dibilang cuma studi perpustakaan dan literatur.

Pendeknya, biar tahu tidak saja tampilan permukaannya saja, tapi juga aspirasi dan suasana batin yang dialami FPI. Untuk tujuan metodologis ini, beberapa kali demo besar-besaran FPI di jalanan, dan di depan Gedung DPR, saya ikut berpartisipasi sekaligus mengobservasi. Pengajian dan zikir malam jumat dihiasi aroma khas juga ikut saya nikmati. Waktu itu.

Tentu saja waktu itu, pamor FPI belum sedahsyat seperti sekarang ketika sukses memobilisir seluruh wilayah Indonesia dan berhasil menggulung plot oligarki tertentu yang mencoba peruntungan untuk menempatkan paksa, Ahok sebagai Gubernur DKI, agar dapat dijadikan model dan preseden untuk setiap wilayah berbasis muslim.

Dan untuk mematahkan plot ilegal tersebut, FPI berhasil secara historis. Fakta ini tentu saja menimbulkan dendam politik yang sukar dilupakan oleh oligarki tertentu. Saya sendiri, telah mengabadikan peristiwa 212 ini dengan suatu reportase yang bagi pembaca berminat memilikinya, silakan diakses di: https://www.academia.edu/30995502/REPORTASE_DAN_ANALISA_GERAKAN_212. Atau sekalian jurnal utuhnya, bisa juga menghubungi staf kami.

Keperluan tulisan ini adalah berempati: bagaimana jika kita berada pada posisi HRS, yang hidup penuh tekanan dan sangat keras. Saya kira tidak semua orang akan sanggup. Penekannya saja bobotnya tidak sekedar preman kelas teri, tapi aparatus negara. Bagi yang tidak memiliki mental baja, mungkin karir aktivis seperti HRS, sudah tidak akan dilanjutkan, dan lebih baik istirahat dan ngurus anak bini. Tapi tidak bagi HRS.

HRS memulai karirnya dari penceramah dari mushola ke mushola, dari masjid ke masjid, dan dari tabligh akbar ke tabligh akbar. Menurut teman saya yang asli anak Betawi yang tahu riwayat dakwah HRS, hal itu sudah dimulai HRS jauh sebelum tahun 1998.

Tapi tahun 1998 adalah tonggak atau milestone bagi figur HRS. Peristiwanya ialah HRS sukses menaklukkan preman Ambon yang ditengarai meneror di daerah Ketapang, Jakarta Pusat. Yang namanya urusan standard reputasi dalam dunia preman adalah apabila berhasil menaklukkan preman yang paling disegani. HRS memimpin pertempuran itu sampai akhirnya para preman kocar-kacir dan kabarnya terpanggang di dalam suatu gedung fasilitas maksiat.

Nama HRS meroket. Dunia preman gentar. Tatanan oligarki yang berkebun preman untuk menyuburkan bisnis maksiat terganggu. HRS jadi buah bibir. Apalagi media juga mengukir dengan rajinnya figura HRS yang kontroversial. Tanpa diundang pun, media baik yang didanai kaum oligarki maupun partikelir, berlomba memburu HRS sebagai sumber berita, baik untuk disudutkan maupun untuk diplitur agar berharga dijual oleh media. Bersambung.

Syahrul Efendi Dasopang
Alumni Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya