Berita

Habib Rizieq Shihab/Net

Publika

Kezaliman Adalah Musuh Sejarah

JUMAT, 04 DESEMBER 2020 | 10:17 WIB

PERISTIWA penggerudugan ke Petamburan tempat kediaman Habib Rizieq Shihab beberapa waktu lalu dan kemarin adalah contoh pemaksaan kemaun politik dengan menggunakan aparat hukum. Secara terang-terangan tanpa rasa sungkan atau malu-malu. Model dari sebuah "an arbitrary regime" rezim yang bertindak sewenang-wenang.

HRS adalah magnet massa dan massa selalu rawan konflik. Gumpalan yang membesar akan menciptakan keberanian bahkan kenekadan. Jika aksi intimidasi ke Petamburan berulang dalam rangka unjuk kekuasaan, maka dapat berkonsekuensi pada ketegangan.

HRS dan FPI bukan penjahat apalagi teroris. Kasus yang dipersoalkannya pun sederhana yaitu kerumunan dari sebuah pernikahan.


Provokasi ke lingkungan Petamburan tidak bagus untuk kenyamanan warga. Opini politik pun buruk. Andai terus-menerus dilakukan, bukan mustahil akan terjadi insiden. Polri tentu ingin menunjukkan keberhasilan melalui pemaksaan, sementara FPI dan pendukung HRS bersikeras melawan. Konflik tak terhindari. Petamburan akan bersimbah darah. Haruskah?

Banyak masyarakat melihat upaya yang dilakukan rezim sebagai ketidakadikan atau kezaliman, meski HRS pun dinilai tak lepas dari kekurangan. Karenanya harus dipertimbangkan langkah solutif untuk menyelesaikan masalah. Kebijakan "tangkap dulu, urusan belakangan" bukan opsi yang baik karena biaya politik ikutannya akan mahal.

Terhadap tindakan represif seperti "HRS harus ditahan" jelas bukan persoalan hukum tetapi politik, persoalan kekuasaan. Arogansi bersandar pada permusuhan. Terlalu dini Kapolda Metro menyimpulkan "ada unsur pidana" meskipun itu adalah hak kepolisian untuk menyimpulkan. Di luar masih diperdebatkan.  

Di antara berbagai batasan "an arbitrary regime" tak lain "is where a people have men set over them, without their choice or allowance; who have power to govern them, and judge their causes without a rule". Sederhananya rezim atau pemerintahan yang sewenang-wenang. Rezim yang menjadikan hukum itu seolah tiada atau menafsirkan aturan hukum sesuai dengan kemauan sendiri.

HRS terkesan ditarget, Syahganda, Anton, Djumhur terus diproses, Gus Nur lanjut, Eggy Sujana dihidupkan kembali status tersangkanya, Ust. Maheer ditangkap, entah berapa ulama dan tokoh lagi yang akan dilumpuhkan dengan "alat hukum" demi proteksi dan memperkokoh kekuasaan. Nampaknya berlaku apa yang Lord Acton nyatakan "Power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely".

Rezim jangan terlena atas sikap "tak boleh kalah" atau "kami penguasa sah, karenanya bisa berbuat apa saja". Indonesia adalah negara hukum, negara demokrasi, negara musyawarah. Tak berguna pendekatan yang selalu memosisikan "berhadap-hadapan" Semut jika diinjak terus akan menggigit pada waktunya. Rakyat pun dapat menunjukkan kekuatan dan kedaulatannya.

Kezaliman adalah musuh sejarah yang tidak pernah langgeng. Runtuh pada akhirnya.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Permintaan Chip AI Dongkrak Saham Intel hingga 24 Persen

Sabtu, 25 April 2026 | 12:18

Apa Itu UNCLOS? Dasar Hukum Jadi Acuan Indonesia di Selat Malaka

Sabtu, 25 April 2026 | 12:03

Purbaya Siap Geser hingga Non-Job Pegawai Pajak Bermasalah

Sabtu, 25 April 2026 | 12:02

Jalan Mulus Kevin Warsh ke Kursi The Fed, Dolar AS Langsung Terkoreksi

Sabtu, 25 April 2026 | 11:45

Subsidi Motor Listrik Disiapkan Lagi, Pemerintah Bidik 6 Juta Unit

Sabtu, 25 April 2026 | 11:16

IHSG Sepekan Anjlok 6,61 Persen, Kapitalisasi Pasar Menciut Jadi Rp12.736 Triliun

Sabtu, 25 April 2026 | 10:59

Rupiah Melemah, DPR Desak Pemerintah Jaga Daya Beli Rakyat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:48

Wamen Ossy Gaspol Benahi Layanan Pertanahan: Target Tanpa Antrean dan Lebih Cepat

Sabtu, 25 April 2026 | 10:27

Ketergantungan pada Figur, Cermin Lemahnya Demokrasi Internal Parpol

Sabtu, 25 April 2026 | 10:02

Netanyahu Akui Sempat Jalani Terapi Kanker Secara Diam-diam

Sabtu, 25 April 2026 | 09:51

Selengkapnya