Berita

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo/Net

Politik

Prihatin Penangkapan Edhy Prabowo, Pengamat: KKP Dilahirkan Gus Dur Untuk Sejahterakan Petani

SABTU, 28 NOVEMBER 2020 | 04:56 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tertangkapnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo oleh tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Rabu dini hari (25/11), sangat memprihatinkan.

Pemerhati politik Universitas Pamulang, Sonny Majid mengatakan, kementerian yang lahir di era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut untuk bertujuan mensejahterakan masyarakat, khususnya nelayan.

"Tetapi memang godaannya banyak. Karena ini berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan, apalagi berkaitan dengan proyek-proyek di kementerian. Kementerian itu kan lembaga yang sudah teknis," kata Sonny Majid dalam keterangannya, Jumat (21/11).


Sonny ingat bagaimana semangat Gus Dur melahirkan Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP).

Kala itu, cerita Sonny, Gus Dur sadar betul bahwa potensi kekayaan alam di Indonesia masih terfokus pada kegiatan eksploitasi sumber daya alam di daratan alias berorientasi darat.

Sementara, Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah. Ini karena Indonesia merupakan negara yang memiliki bentang laut yang sangat luas, garis pantai terpanjang kedua di dunia.

"Gus Dur memahami peta tersebut, Gus Dur sadar betul bahwa kita memiliki sejarah panjang sebagai bangsa maritim. Gus Dur berhasil meletakkan kembali konsep dasar pembangunan berbasis kemaritiman," jelasnya.

Ibarat kata, lanjutnya, sangat nampak sekali Gus Dur ingin menyadarkan kepada kita semua akan pentingnya reorientasi pembangunan yang juga diarahkan kepada sektor kelautan.

"Apalagi negara kita kan berposisi silang diapit dua benua dan dua samudera. Jadi posisinya sangat strategis sekali untuk perdagangan global. Perlu saya ingatkan, 40 persen perdagangan internasional melintasi laut Indonesia," papar Sonny.

Menurutnya, Selain reorientasi pembangunan yang ketika itu dominan pada sektor daratan, semangat Gus Dur mendirikan KKP juga adalah mendongkrak ekonomi masyarakat nelayan yang sejak dulu belum terangkat derajatnya dalam sisi kehidupan ekonomi.

"Gus Dur mendorong agar nelayan-nelayan memiliki kedaulatan untuk mengeksplorasi kekayaan laut yang kita miliki," imbuhnya.

Sampai sekarang masyarakat nelayan masih sulit mengakses permodalan. Kemudian selalu kalah dalam tangkapan ikan, karena harus bersaing dengan kapal-kapal nelayan asing yang berkapasitas besar dan kerap melakukan pencurian ikan di laut Indonesia.

"Belum lagi kerusakan-kerusakan habitat laut akibat penggunaan alat tangkap yang dilarang," tambahnya.

Masih kata Sonny, Gus Dur juga pernah menerbitkan Keppres yang sangat mendukung bidang kemaritiman, seperti Keppres 52/1999 tentang Konvensi Internasional yang menerapkan tanggungjawab perdata untuk kerusakan akibat pencemaran minyak.

Adalagi Keppres 178/1999 mengenai Ratifikasi Konvensi Hukum Laut PBB tahun 1982 di Indonesia. Terakhir penetapan Hari Nusantara setiap 13 Desember sebagai Hari Nasional, yang dikuatkan oleh Megawati Soekarnoputri saat menjabat presiden dengan menerbitkan Keppres 126/2001.

"Menindaklanjuti semangat Gus Dur, Megawati akhirnya meluncurkan program Gerakan Pembangunan Kelautan dan Perikanan Nasional yang disingkat Gerbang Mina Bahari. Kala itu Megawati menginginkan sektor kelautan menjadi leading sektor," bebernya.

Di era Jokowi periode pertama, sebenarnya sudah sangat baik ketika punya visi Indonesia sebagai “Poros Maritim Dunia.” Untuk mewujudkan itu, KKP menjadi instrument paling penting, harus dikuatkan.

"Jadi sepertinya, jika ingin KKP berjalan sesuai harapan, semangat pendirian yang dilakukan okeh Gus Dur perlu kembali dijadikan kontemplasi penguatan kembali fungsi atau peran KKP agar lebih strategis dan itu hanya dapat dilakukan oleh figur yang memahami semangat Gus Dur," pungkasnya.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya