Berita

Pasukan AS menunggu penerbangan helikopter di Pangkalan Tentara Nasional Afghanistan/Net

Dunia

AS Tarik Pasukan Dari Afghanistan, Taliban Senang Yang Lain Deg-degan

KAMIS, 19 NOVEMBER 2020 | 06:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kelompok Taliban menyambut baik pengumuman yang disampaikan oleh Pentagon soal penarikan dua ribu tentara AS dari Afghanistan pada Selasa (17/11) waktu setempat. Mereka mengatakan ini adalah langkah baik yang bisa membantu mengakhiri konflik berkepanjangan di negara yang terletak di Asia Selatan itu.

Keputusan Pentagon untuk memangkas jumlah pasukan di Afghanistan dan Irak ke level terendah dalam hampir 20 tahun perang, tercapai setelah Presiden AS Donald Trump berjanji untuk mengakhiri konflik di luar negeri.

“Ini adalah langkah yang baik dan untuk kepentingan rakyat kedua negara,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, merujuk pada AS dan Afghanistan, seperti dikutip dari AFP, Rabu (18/11).


“Semakin cepat pasukan asing pergi, semakin banyak perang yang akan dicegah,” lanjutnya.

Sementara Taliban berbahagia, lain lagi dengan sejumlah kritikus. Mereka justru telah menyatakan keprihatinan bahwa pengunduran diri yang cepat dapat memperkuat Taliban dan mengikis keuntungan yang diperoleh sejak 2001, ketika pasukan pimpinan AS menggulingkan kelompok garis keras pasca serangan 11 September.

Langkah Pentagon terbaru akan membuat dua ribu tentara AS keluar dari Afghanistan pada 15 Januari, kurang dari seminggu sebelum Presiden terpilih Joe Biden diperkirakan akan dilantik. Penarikan itu menyusul rencana Presiden Donald Trump untuk mengakhiri keterlibatan militer AS di Afghanistan.

Di bawah kesepakatan yang ditandatangani 29 Februari, pemerintahan Trump setuju untuk menarik semua pasukan asing dari negara itu pada Mei 2021. Sebagai gantinya, Taliban berjanji untuk tidak menyerang pasukan AS dan mengatakan mereka akan menghentikan kelompok jihadis transnasional seperti Al-Qaeda dan ISIS untuk beroperasi di negara itu.

Tak hanya para kritikus yang khawatir soal penarikan pasukan AS dari Afghanistan. Di Kabul, beberapa warga menyatakan kegelisahan serupa.

“Taliban akan meningkatkan kekerasan dalam upaya untuk merebut lebih banyak kekuatan politik di Afghanistan, menempatkan Afghanistan pada jalur yang berbahaya,” kata seorang penjual buku bernama Mahdi Mosawi.

Penduduk ibu kota lainnya, Fatima Safari, mengatakan penarikan itu akan merusak keuntungan perempuan yang diperoleh dengan susah payah.

Selama pemerintahan Taliban antara tahun 1996 hingga 2001, wanita dipaksa untuk mengenakan burqa dan mereka yang dituduh melakukan perzinaan terkadang dieksekusi.

“Wanita mungkin tidak dapat memainkan peran seperti yang biasa mereka lakukan sekarang,” katanya.

Jerman, yang memiliki ratusan tentara di Afghanistan utara, juga mengatakan pada Rabu (18/11) waktu setempat, bahwa mereka khawatir penarikan pasukan AS yang cepat dapat mempengaruhi upaya perdamaian.

“Kami sangat prihatin atas apa arti pengumuman AS itu bagi kelanjutan pembicaraan damai di Afghanistan,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

“Kita seharusnya tidak menciptakan rintangan tambahan - sesuatu yang dilakukan tergesa-gesa pasti akan mengarah ke sana,” lanjutnya.

Kesepakatan AS-Taliban, yang ditandatangani di Doha, membuka jalan bagi pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan pada 12 September. Namun, pada bulan-bulan setelah itu, para negosiator hampir tidak membuat kemajuan nyata dan pembicaraan sekarang tampak terhenti.

Pejabat Afghanistan meremehkan pengurangan pasukan AS, yang akan meninggalkan sekitar 2.500 anggota layanan Amerika di Afghanistan setelah 15 Januari.

“Pasukan keamanan dan pertahanan Afghanistan telah melakukan 96 persen operasi secara mandiri dan siap untuk terus mempertahankan negara dari musuh-musuh kami,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Afghanistan Rahmatullah Andar.

Sejak kesepakatan AS-Taliban, Pentagon telah menutup beberapa pangkalan militer di Afghanistan dan merotasi ribuan tentara ke luar negeri.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya