Berita

Nikita Mirzani/Net

Publika

Negeri Mirzani Yang Harus Dibenahi

MINGGU, 15 NOVEMBER 2020 | 06:18 WIB

NIKITA Mirzani ramai dibicarakan gara-gara melecehkan HRS yang pulang dari Saudi. Abu Janda berakting jingkrak-jingkrak menggendangi. Mirzani dilindungi Polisi karena reaksi Ustaz At Thuwailibi.

Nikita pernah ditangkap di Hotel Kempinsky dalam kasus prostitusi. Publik pun ikut  mengamati.

Berbagai video kini beredar membuka data melengkapi perilaku pelecehan yang dilakukan Mirzani. Ada tampilan saat berfoto sexy hingga memberi uang pada tukang parkir yang berujung pada fose tak senonoh. Sepertinya telah hilang rasa malu pada dirinya. Berucap dan berbuat semaunya.


Negeri Mirzani hanya sebutan saja, untuk menggambarkan situasi negeri yang juga telah hilang rasa malu. Uang telah mampu membeli kehormatan. State dignity yang tergadaikan karena kebutuhan pembiayaan. Siapapun boleh memakai asal bawa uang. Soal kooptasi atau aneksasi itu hanya konsekuensi.

Ada tiga indikator karakter dari kondisi ini, yaitu :

Pertama, terjebak pada kesenangan duniawi semata. Sukses ditentukan materi. Nilai-nilai spiritual, ruhani, dan agama terpinggirkan. Anggapannya hal itu urusan nanti, sukses saat ini yang lebih penting. Time is money, time for an infrastructure 'boost’.

Kedua, negeri kekuasaan berbagi. Bagi bagi kekuasaan atas dasar balas jasa. Cukong mendapat bagian proyek, relawan dapat Komisaris dan lain jabatan berduit, partai mendapat Menteri, rangkulan koalisi juga dapat bancakan. Kekuasan bersama 'gotong royong'. Satu lubang rame-rame.

Ketiga, aparat berebut foto selfie dengan Mirzani cukup ironi. Aparat yang bernyanyi "habibana" dianggap melanggar disiplin dan diborgol Polmil. Tetapi sejumlah aparat yang berfoto bersama Nikita dengan ceria malah dibiarkan. Mestinya sama terkena sanksi. artinya Negeri Mirzani adalah negeri ketidakadilan.

Revolusi mental gagal, revolusi moral dan akhlak adalah pilihan. Meski butuh penjabaran dan konsistensi.
Nikita Mirzani bebas berbuat semaunya dan dilindungi.  Menunjukkan cara penyelesaian masalah dengan masalah. Terus bertumpuk tanpa solusi. Pemerintah bikin pusing sendiri dan rakyat pun semakin jengkel.

Badut dan pelacur politik bahagia berjoget-joget.

Bu Mega, benar kata banyak orang bahwa bukan Jakarta yang amburadul tetapi Negeri Mirzani pimpinan Pak Jokowi yang harus segera dibenahi.

Disikat dan dicuci.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya