Berita

Melu Filipina Teodoro Locsin/Net

Dunia

Menlu Filipina Minta Utusannya Di PBB Memilih Kandidat Asal China Sebagai Hakim Mahkamah Internasional

SENIN, 09 NOVEMBER 2020 | 14:42 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri luar negeri Filipina Teodoro Locsin, telah memerintahkan misi negaranya di Perserikatan Bangsa-Bangsa agar memilih kandidat asal China untuk mengisi salah satu dari lima kursi di Mahkamah Internasional (ICJ) yang akan kosong tahun depan.

 â€œAnda diperintahkan untuk memberikan suara Filipina untuk kandidat China ke pengadilan internasional. Itu adalah satu-satunya instruksi Anda yang jelas,” kata Locsin di Twitter tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip dari Bangkok Post, Minggu (8/11).

Empat dari delapan kandidat yang memperebutkan lima posisi adalah hakim petahana yang masa jabatan sembilan tahunnya akan berakhir pada 5 Februari tahun depan. Salah satu dari empat kandidat adalah Hakim Cina Xue Hanqin, yang juga merupakan wakil presiden ICJ, yang juga dikenal sebagai Pengadilan Dunia.


Mahkamah Internasional (International Court of Justice) adalah sebuah badan kehakiman utama Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdiri dari 15 hakim yang dipilih untuk masa jabatan sembilan tahun oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Dewan Keamanan. Fungsi utama Mahkamah ini adalah untuk mengadili dan menyelesaikan sengketa antarnegara-negara anggota dan memberikan pendapat-pendapat bersifat nasihat kepada organ-organ resmi dan badan khusus PBB. Hakim yang telah berakhir masa jabatannya berhak untuk dipilih kembali.

Sementara itu, sebuah dokumen Perserikatan Bangsa-Bangsa tertanggal 29 Juni 2020 menunjukkan Filipina menominasikan calon lain Hakim asal Jepang yakni Yuji Iwasawa tetapi tidak untuk Xue.

Mengenai hal itu, Kementerian luar negeri mengatakan Filipina dapat mendukung lebih dari satu kandidat pada pemilihan 11 November karena akan ada lima lowongan.

Sejak berkuasa pada tahun 2016, Presiden Rodrigo Duterte telah mengupayakan hubungan yang lebih baik dengan Beijing, meskipun Filipina, terutama militernya, telah menyembunyikan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap China atas apa yang dilihatnya sebagai gangguan ke wilayahnya, penindasan terhadap para nelayan, dan penolakan akses untuk sumber energinya.

Selama ini China mengatakan perairan yang disengketakan di Laut China Selatan adalah miliknya, dan tindakannya di sana sah.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya