Berita

Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha), Azmi Syahputra/Net

Publika

Pertaruhan Integritas Ilmuwan Dalam Politisi Cendekia

SENIN, 09 NOVEMBER 2020 | 08:16 WIB

ILMUWAN sejati tidak akan berpihak berdasarkan posisinya, melainkan pada kebenaran. Karena kedudukan ilmuwan harus objektif dan berpikir secara tidak parsial. Selain itu, ilmuwan harus terbuka pada obervasi baru yang bisa jadi berbeda dengan ekspektasinya.

Bersikap objektif menjadi utama karenanya pemikiran harus berbasis pada data, fakta, dan pengetahuan yang berpijak pada kebenaran. Dengan cara ini, kepentingan pribadi akan dapat ditekan.

Sedangkan posisi politik praktis tidak memerlukan pemikiran yang konsekuen, sebagaimana kebenaran keilmuwan. Yang diperlukan adalah kepentingan sesaat.


Begitulah posisi kekuasaan. Kadang seseorang yang memegang kekuasaan akan menggeser nilai kebenaran akademik.

Karenanya, dari penjabaran di atas setidaknya diketahui ciri khas ilmu adalah objektif, rasional, terbuka untuk diuji, bebas nilai, dan juga benar atau salah.

Sedangkan politik lebih berada di wilayah ideologis bersifat subjektif, tertutup, irrasional, dan berorientasi bukan pada benar atau salah, melainkan menang atau kalah.

Hadirnya Prof Mahfud MD dari kalangan ilmuan di ranah organ kekuasaan sebenarnya adalah momen untuk meluruskan birokrasi, dan diharapkan mewarnai kinerja pemerintahan sesuai nilai dan prinsip keilmuan.

Sebagai seorang Menterimyang berasal dari ilmuwan, seharusnya memberikan kontribusi signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan berpikir membuat formulasi bagaimana perkembangan hukum dan penegakannya supaya menjadi lebih baik, bukan sebaliknya.

Sikap karakteristik keilmuwan tidak boleh hilang begitu dalam kekuasaan. Tidak boleh berubah apalagi sampai menimbulkan kecemasan dalam masyarakat.

Karena itu, sebagai seorang ilmuwan atau cendikia yang juga menjabat amanah dalam organ kekuasaan sejatinya harus memiliki tanggung jawab dalam hal memelihara dan menjaga ilmu. Agar ilmu tetap ada dalam jalan kebaikan dan kebenaran.

Karena norma masyarakat ilmiahlah yang memberikan nilai dasar dan makna kepada setiap ilmuwan. Karena akal yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa harus digunakan untuk memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang, bukan pada kekuasaan atau kepentingan sesaat.

Azmi Syahputra

Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia (Alpha)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

16 Negara Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Tujuh Wakil Asia

Senin, 29 Juni 2026 | 02:03

Prediksi Skor Babak 32 Besar

Senin, 29 Juni 2026 | 02:00

Bareskrim Gagalkan Peredaran 325 Kg Sabu Jaringan Thailand-Aceh

Senin, 29 Juni 2026 | 01:31

Segera Terbitkan Regulasi Pelarangan LGBT!

Senin, 29 Juni 2026 | 01:12

Forum Konferensi Republik Hasilkan Tiga Mandat

Senin, 29 Juni 2026 | 01:03

Mesir vs Iran: Stadion Berubah Jadi Arena Adu Gengsi Ribuan Tahun

Senin, 29 Juni 2026 | 00:38

Pelarangan Konferensi Republik di Kampus UI Tak Menumbuhkan Pesimisme

Senin, 29 Juni 2026 | 00:27

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

BPPKB Banten HDS Melepas Stigma Negatif terhadap Ormas

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:41

Forum Konferensi Republik Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI

Minggu, 28 Juni 2026 | 23:05

Selengkapnya