Berita

Polisi berjaga-jaga di penjuru KOta Wina, Austria pasca peristiwa teror/Net

Dunia

Kasus Teror Wina: Bekerja Sama Dengan FBI Polisi Austria Tahan Delapan Orang Residivis

JUMAT, 06 NOVEMBER 2020 | 08:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Polisi terus mengembangkan kasus teror penembakan di Wina. Hingga saat ini mereka dilaporkan telah menahan delapan orang terkait insiden mengerikan yang terjadi pada pekan lalu itu.

Menteri dalam negeri Austria, Karl Nehammer, mengatakan pada Kamis (5/11) waktu setempat, delapan dari mereka yang ditahan diketahui telah terlibat kasus hukum sebelumnya, termasuk karena pelanggaran teror.

Setelah terjadi serangan di mana seorang pria kelahiran Austria menembak dan membunuh empat orang di kawasan hiburan malam yang populer di pusat kota Wina pada Senin (2/11) malam, polisi telah menangkap total 16 pria.


"Empat dari mereka telah dihukum karena pelanggaran terkait terorisme, dua karena pelanggaran kejahatan dengan kekerasan, dan dua karena percobaan 'pembunuhan demi kehormatan'," kata Mendagri pada konferensi pers, seperti dikutip dari AFP, Kamis (5/11).

"Kami telah menjalin kerja sama intensif dengan FBI, yang memberikan informasi berharga kepada otoritas Austria," tambah Nehammer, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Investigasi juga mengarah ke Swiss, di mana jaksa telah mengkonfirmasi bahwa dua pria Swiss berusia 18 dan 24 tahun yang ditangkap Rabu telah menjadi sasaran kasus kriminal atas pelanggaran terorisme.

Pihak berwenang di negara lain juga sedang menyelidiki "hubungan langsung dengan pelaku," menurut Nehammer, tetapi dia mengatakan tidak dapat menyebutkan nama negara tersebut pada tahap ini karena penyelidikan yang sedang berlangsung.

Surat kabar Jerman Der Spiegel melaporkan awal pekan ini bahwa penyerang Wina telah melakukan kontak dengan kelompok Islamis Jerman dalam upaya melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dengan organisasi ISIS.

Negara-negara tetangga membantu pihak berwenang Austria serta badan penegakan hukum Uni Eropa, Europol yang mengirim dua agen ke Wina.

Penembakan itu adalah serangan besar pertama di Austria selama beberapa dekade dan yang pertama dilakukan oleh seorang jihadis, yang diidentifikasi oleh pihak berwenang sebagai Kujtim Fejzulai yang berusia 20 tahun, seorang berkewarganegaraan ganda Austria-Makedonia yang juga peenah dihukum karena mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah.

"Setelah membunuh empat orang dan melukai 22 orang, termasuk seorang petugas polisi, Fejzulai tewas oleh peluru yang masuk ke tubuhnya tepat di bawah bahu kirinya dan menembus paru-parunya, kata pihak berwenang.

Pejabat keamanan pada hari Kamis juga mendapat kritik karena mereka tidak menindaklanjuti peringatan dari tetangganya Slovakia bahwa Fejzulai telah mencoba membeli amunisi di sana pada bulan Juli, sekitar tujuh bulan setelah dia dibebaskan dalam masa percobaan.

Meskipun pada Rabu Nehammer mengakui adanya "kegagalan komunikasi" ketika harus memberi tahu kementerian kehakiman. Kepala polisi Wina Gerhard Puerstl mengatakan tersangka pada awalnya tidak dapat diidentifikasi dengan jelas dalam foto yang dikirim dari Slovakia.

Pada hari Kamis, ratusan orang berkumpul untuk mengenang para korban dengan menyalakan lilin di dekat lokasi serangan, termasuk anggota organisasi pemuda Yahudi dan Muslim.

Para imam dan rabi sebelumnya, bersama dengan Kardinal Katolik Roma Christoph Schoenborn dari Wina, mengambil bagian dalam pawai diam melewati lokasi serangan dan berdoa bersama untuk para korban.

Rincian lebih lanjut telah muncul di media lokal tentang mereka yang tewas dalam serangan itu, yang termuda di antaranya berusia 21 tahun bernama Nedzip V.

Korban lainnya adalah seorang mahasiswa Jerman berusia 24 tahun di Universitas Seni Terapan Wina yang bekerja sebagai pelayan, seorang pria berusia 39 tahun dan seorang wanita berusia 44 tahun.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Bawaslu Minta Masukan Insan Pers Maksimalkan Kinerja Pengawasan Pemilu

Jumat, 04 September 2026 | 04:41

Dihadiri Kapolri, Apel Kebangsaan dan Kemah Nasional PUI 2026 Bidik Kaderisasi Pemuda

Jumat, 04 September 2026 | 04:14

Jangan Sampai Indonesia jadi Jalur Lalu Lintas Narkoba Internasional!

Jumat, 04 September 2026 | 03:59

PTUN Jakarta Kukuhkan PERKAPI sebagai Organisasi Kurator yang Sah

Jumat, 04 September 2026 | 03:39

PBB Perkuat Regenerasi dan Siapkan Kader Muda Rebut Kursi Parlemen 2029

Jumat, 04 September 2026 | 03:19

TNI Perkuat Pendidikan Siswa SMP di Papua Selatan

Jumat, 04 September 2026 | 02:52

Kasus Keracunan MBG Marak Lagi, Kepala BGN Mengaku Terpukul dan Drop

Jumat, 04 September 2026 | 02:26

Harga Pertamax Tidak Naik, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Jumat, 04 September 2026 | 01:48

Kuasa Hukum Bantah Febrie Terima Rp40 Miliar dari Pengusaha Tan Kian

Jumat, 04 September 2026 | 01:20

Penjelasan Kepala BGN soal Kasus Keracunan MBG Berulang Bikin Syok

Jumat, 04 September 2026 | 00:59

Selengkapnya