Berita

Para penggemar K-Pop menjadi kekuatan baru yang menggerakkan aksi protes anti-pemerintah di Thailand/Net

Dunia

Penggemar K-Pop Jadi Motor Penggerak Baru Aksi Protes Anti-Pemerintah Di Thailand

SELASA, 03 NOVEMBER 2020 | 13:59 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kekuatan para penggemar K-Pop tampaknya sudah tidak dapat diragukan lagi. Mereka bersedia mengumpulkan ratusan ribu dolar untuk mendukung aksi protes anti-pemerintah di Thailand.

Melalui media sosial, para penggemar K-Pop seakan muncul sebagai kekuatan politik yang kuat menggunakan gaya mereka, termasuk menari.

Bukan hanya di Thailand, besarnya kekuatan penggemar K-Pop juga terbukti di Amerika Serikat (AS). Di mana mereka mengumpulkan dana untuk gerakan Black Lives Matter dan menyabotase kampanye pemilihan Presiden Donald Trump.


Di Thailand, mereka kembali membuktikan bahwa penggemar K-Pop ikut peduli pada situasi yang terjadi di negara mereka.

"Penggemar K-pop akan senang untuk hanya menyukai 'oppa' (idola) dan tidak peduli dengan yang lain. Tetapi dengan negara yang seperti ini, kami sebagai warga negara harus menyerukan hal-hal yang lebih baik," ujar seorang penggemar K-Pop bernama Suphinchaya, berusia 23 tahun, seperti dikutip CNA pada Selasa (3/11).

Peneliti studi Korea-Thailand, Chayanit Choedthammatorn mengatakan, dominasi generasi muda dan paham media sosial membuat para penggemar K-Pop memiliki pengaruh tersendiri.

"Meskipun mereka adalah penggemar K-pop, mereka adalah warga negara Thailand yang pertama," katanya.

Pengaruh penggemar K-Pop dalam aksi protes di Thailand mulai terlihat setelah unjuk rasa besar-besaran pada 16 Oktober. Ketika itu, pasukan polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan pengunjuk ras yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha.

Jauh dari tempat kejadian, grup penggemar girlband Girls Generation, memulai polling Twitter dengan lebih dari 17.500 pengikut untuk melihat apakah mereka dapat membantu mendanai aksi protes.

Hasilnya sangat positif, karena penggemar K-pop tidak asing dengan kampanye penggalangan dana. Bahkan sebelumnya mereka menggalang dana untuk membeli iklan papan reklame di ruang publik untuk merayakan ulang tahun artis tercinta atau rilis album mereka.

"Banyak orang marah dengan tindakan keras dan kekerasan polisi terhadap pengunjuk rasa tak bersenjata hari itu. Mereka mengubah kemarahan itu menjadi uang sumbangan," kata seorang anggota grup bernama Areeya.

Hanya dalam kurun waktu sembilan jam, grup yang menamai diri mereka SONE itu berhasil mengumpulkan lebih dari 780 ribu baht atau setara dengan Rp 366 juta (Rp 470/baht).

Jika ditotal dengan grup lain, maka penggemar K-Pop di Thailand berhasil mengumpulkan lebih dari 4 juta baht atau Rp 1,8 miliar pada pekan itu untuk mendukung aksi protes.

Areeya dan timnya kemudian mengoordinasikan pembelian peralatan pelindung seperti helm dan kacamata, mengatur pengiriman ke lokasi protes dan mencatat semuanya untuk transparansi.

Sejumlah besar uang juga diberikan kepada Pengacara Thailand untuk Hak Asasi Manusia, sebuah kelompok nirlaba yang telah memberikan bantuan hukum pro bono kepada lebih dari 90 pengunjuk rasa yang ditangkap sejak pertengahan Oktober.

Penggemar Thailand dari nama terbesar K-pop seperti Blackpink, BTS, EXO, SHINee dan Super Junior juga ikut bergerak.

"Kami bangga mendukung tujuan yang kami yakini, atas nama seseorang yang kami cintai," kata Jan yang seorang ELF atau penggemar boyband Super Junior.

Kelompok tersebut diketahui berhasil mengumpulkan lebih dari 700 ribu baht atau Rp 329 juta dalam waktu 22 jam.

"Kami tiba-tiba memiliki lebih dari 10 juta baht (US $ 321.440) di rekening bank kami. Saya kagum dengan penggemar K-Pop," kata direktur Pengacara Thailand untuk HAM, Yaowalak Anuphan.

Bukan hanya sumbangan dana, para penggemar K-Pop juga membanjiri media sosial dengan berita protes. Alih-alih mengunggah artis favorit mereka, media sosial grup penggemar K-Pop berubah lebih politis, mereka mempromosikan pesan sarkastik dengan bahasa gaul K-Pop.

Secara fisik, para penggemar K-Pop juga ikut melakukan aksi protes dengan gaya mereka, membawa tongkat cahaya seperti yang mereka lakukan ketika menonton konser.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya