Berita

Presiden Prancis, Emmanuel Macron/Net

Dunia

Boikot Tak Cukup, Jaringan Teroris Al Qaeda Ancam Bunuh Emmanuel Macron

SELASA, 03 NOVEMBER 2020 | 09:35 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Presiden Prancis, Emmanuel Macron tengah menjadi sorotan dunia Arab dan Muslim karena komentar kontroversialnya terkait dengan Islam. Ia pun diserang karena dianggap mendukung penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Sejumlah negara telah menyatakan kecamannya pada Macron, beberapa bahkan menyerukan boikot produk Prancis.

Kelompok teroris Al Qaeda pun ikut ambil bagian. Jaringan Al Qaeda di Maghreb Islam (AQMI) telah memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menghina Nabi Muhammad dan mengancam Macron atas komentarnya.


"Membunuh siapa saja yang menghina nabi adalah hak setiap Muslim," begitu laporkan kantor berita AFP yang mengutip pernyataan para teroris tersebut.

Lebih lanjut, AQMI menuturkan, boikot produk Prancis merupakan sebuah kewajiban. Namun tindakan tersebut tidak cukup untuk membalas pernyataan Macron.

Menurut AQMI, Macron adalah seorang pemimpin mudah yang tidak berpengalaman, ia memiliki "otak kecil" dan terus menyinggung nabi.

Hubungan antara Prancis dan sebagian dunia Muslim memburuk, khususnya setelah seorang guru di pinggiran kota Paris meninggal karena dipenggal oleh seorang imigran muslim berusia 18 tahun. Guru bernama Samuel Patty itu diserang setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam kelasnya.

Macron yang mengutuk pembunuhan tersebut memberikan sang guru penghargaan sipil tertinggi, Légion d'Honneur. Pada saat yang sama, ia membela Patty yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dan menyatakan akan melindungi hak kebebasan berekspresi.

Sontak komentar Macron dianggap sebagai sebuah dukungan terhadap penghinaan nabi yang membuat banyak pihak marah.

Protes skala besar diadakan di Bangladesh, Lebanon dan Malaysia. Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menyebut komentar Macron memecah belah, sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pemimpin Prancis itu membutuhkan "pemeriksaan mental".

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya