Berita

Pakar hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah/RMOL

Dunia

Potensi Internasionalisasi Isu Papua Jika AS Berada Di Bawah Kepemimpinan Joe Biden

SENIN, 02 NOVEMBER 2020 | 19:24 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) selalu menjadi sorotan setiap negara, tidak terkecuali Indonesia. Bagaimanapun, sebagai kekuatan besar, AS memiliki pengaruh terhadap kebijakan negara lain.

Dalam kaitan ini, pakar hubungan internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah cukup menyoroti kemungkinan perubahan kepemimpinan dari AS dan dampaknya bagi Indonesia.

Berbicara dalam RMOL World View betajuk "Indonesia Kembali ke Pelukan Teman Lama?" pada Senin (2/11), Teuku menuturkan, ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh Indonesia jika Joe Biden dari Partai Demokrat dapat mengambil kursi petahana, Presiden Donald Trump.


Sebagai Demokrat, Biden akan lebih fokus pada isu-isu terkait dengan hak asasi manusia (HAM). Seperti banyak negara lain, Indonesia sendiri masih berkutat dengan isu pembangunan HAM, khususnya di Papua yang menjadi perhatian banyak negara lain.

Untuk itu, ia menjelaskan, Indonesia harus bersiap jika isu HAM akan disoroti oleh AS, terlebih sekarang negara ini menjadi perhatian karena dianggap sebagai wilayah yang strategis bagi rivalitas Washington dengan Beijing.

"Sebagai negara demokratis, seringkali mereka (AS) berkilah, mendapatkan tekanan dari dalam negeri untuk hirau atas aspek-aspek HAM di Papua," ujar Teuku.

"Kita harus hindari hal itu. Caranya ya dari dalam negeri Indonesia sendiri, bilateral dengan Amerika, regional, dan glonal. Harus benar-benar kita praktikan," lanjutnya.

Dari dalam negeri, Teuku menjelaskan, Indonesia harus membangun Papua sesuai dengan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.

"Dan untuk Papua ya indikatornya teruji, pembangunan yang AS katakan sebagai Sustainable Development Goals (SDG). Untuk pemerintah indikatornya good governance. Kemudian untuk pejabat-pejabat namanya corruption index," terang dia.

Dalam kerangka bilateral, ia juga menambahkan, Indonesia harus berani menegaskan integritas dan kedaulatan teritorial pada semua negara, tidak terkecuali AS.

Sehingga tidak ada lagi negara lain yang mempertanyakan proses politik maupun kedaulatan Indonesia.

Di regional, Indonesia sudah tergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG). Di sana, kata Teuku, Indonesia harus membuktikan kredibilitas dan menekankan bahwa kritik terhadap Papua tidak beralasan.

Selain itu, Indonesia juga harus mengawasi arus warga asing ke Papua. Polisi, TNI, maupun intelijen harus lebih aktif melihat siapa yang datang ke Papua.

"Terus terang, kita sangat sulit mengawasi Papua. Tapi kalau kita tidak awasi dengan baik, ya saya khawatir skenario seperti 'internasionalisasi Papua' berjalan sesuai yang tidak kita harapkan," imbau Teuku.

"Jadi mau tidak mau, ada tidak ada tekanan dari manapun, kita harus meningkatkan harkat masyarakat kita di Papua," tandasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya