Berita

Sejumlah mahasiswa Thailand boikot upacara kelulusan sebagai aksi solidaritas dengan para pengunjuk rasa/Net

Dunia

Dukung Unjuk Rasa, Sejumlah Mahasiswa Boikot Upacara Kelulusan Yang Dipimpin Raja

JUMAT, 30 OKTOBER 2020 | 17:26 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sejumlah mahasiswa di Thailand memboikot upacara kelulusan yang dipimpin oleh Raja Maha Vajiralongkorn sebagai solidaritas kepada para pengunjuk rasa.

Upacara kelulusan di mana raja secara pribadi membagikan gelar merupakan momen yang selama ini dibangga-banggakan. Foto-foto momen itu bahkan dipanjang di banyak rumah Thailand.

Namun para mahasiswa pada Jumat (30/10) mengatakan akan ikut menunjukkan kemarahan mereka pada monarki di tengah seruan reformasi yang digaungkan oleh para pengunjuk rasa sejak pertengahan Juli.


Suppanat Kingkaew yang berusia 23 tahun mengatakan dia memboikot upacara yang diadakan pada Jumat dan Sabtu (31/10) di Universitas Thammasat.

"Ini untuk mengirimkan pesan tidak langsung bahwa sebagian dari kita tidak senang dengan monarki dan menginginkan perubahan," kata dia kepada Reuters.

Tidak jelas berapa banyak mahasiswa Thammasat yang akan mengikuti boikot.

Papangkorn Asavapanichakul, mahasiswa berusia 24 tahun mengaku akan hadir dan tidak akan menyia-nyiakan momen tersebut.

"Saya ingin foto itu. Ini adalah acara sekali seumur hidup," ujarnya.

Banyak mahasiswa mengaku, mereka menghadiri upacara tersebut karena tekanan keluarga, alih-alih politik.

“Ibu saya meminta saya untuk datang. Sejujurnya, saya tidak benar-benar ingin bergabung,” kata seorang siswa berusia 24 tahun yang menyebut namanya hanya sebagai Jepang.

Sampai berita ini dirilis, baik pihak universitas maupun istana belum memberikan komentar.

Aksi protes yang terjadi di Thailand bertujuan untuk menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha, amandemen konstitusi, dan reformasi monarki.

Para pengunjuk rasa mengatakan kekuasaan raja harus dikurangi dan perubahan yang memberinya kendali pribadi atas beberapa unit tentara dan kekayaan istana harus dibalik.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya