Berita

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan/Net

Dunia

Prancis Tidak Akan Balas Boikot Produk Turki, Tapi Desak UE Segera Bertindak Atas Pernyataan Erdogan

RABU, 28 OKTOBER 2020 | 08:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan soal seruan boikot terhadap produk negara Prancis dianggap telah melanggar nilai-nilai Uni Eropa. Untuk itu, pada Selasa (27/10) Prancis mendorong sekutu mereka di UE untuk mengadopsi tindakan terhadap Turki.

Sebelumnya pada hari yang sama, Komisi Uni Eropa memperingatkan bahwa keanggotaan Turki di blok itu semakin jauh dari sebelumnya mengingat pernyataan Erdogan.

"Prancis bersatu dan Eropa bersatu. Pada Dewan Eropa berikutnya, Eropa harus mengambil keputusan yang memungkinkannya memperkokoh keseimbangan dengan Turki untuk lebih membela kepentingan dan nilai-nilai Eropa," kata Menteri Perdagangan Prancis, Franck Riester, kepada anggota parlemen, tanpa menentukan tindakan apa yang akan diambil, seperti dikutip dari AFP, Rabu (28/10).


Sebelumnya di hari yang sama, Komisi Eropa memperingatkan bahwa komentar Erdogan membuat upaya Turki yang terhenti untuk bergabung dengan UE menjadi prospek yang lebih jauh.

"Seruan untuk boikot produk dari setiap negara anggota bertentangan dengan semangat kewajiban ini dan akan membawa Turki lebih jauh dari Uni Eropa," kata seorang juru bicara.

Beberapa barang Prancis telah dikeluarkan dari rak supermarket di beberapa negara Timur Tengah termasuk Qatar dan Kuwait.

Meskipun demikian, Riester mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa pemerintah Prancis tidak merencanakan tindakan balasan terhadap produk Turki.

Ekonom Prancis Stéphanie Villers mengatakan kepada radio RTL, bahwa boikot tersebut kemungkinan akan berdampak marjinal pada ekspor Prancis, mencatat bahwa tarif anggur Prancis yang diperkenalkan oleh AS tahun lalu jauh lebih merusak.

"Jika ada niat nyata untuk merugikan ekonomi Prancis, maka semua produk Prancis akan diboikot," kata Villers, mengamati bahwa sektor kedirgantaraan dan kemewahan yang lebih menguntungkan tidak terpengaruh.

Para pemimpin dan pejabat Uni Eropa berkumpul di sekitar Prancis pada hari Senin. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan negaranya berdiri bersama Prancis 'untuk kebebasan berbicara dan melawan ekstremisme dan radikalisme'.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas menggambarkan penghinaan Erdogan terhadap Macron sebagai 'titik terendah baru', menambahkan bahwa negaranya "berdiri dalam solidaritas dengan teman-teman Prancis kami".

Presiden Yunani Katerina Sakellaropoulou menambahkan bahwa retorika Erdogan "memicu fanatisme agama dan intoleransi atas nama benturan peradaban, [dan] tidak dapat ditoleransi".

Pada pertemuan puncak awal bulan ini, negara-negara anggota UE setuju untuk meninjau perilaku Turki pada bulan Desember dan mengancam akan menjatuhkan sanksi jika 'provokasi' Erdogan tidak berhenti, kata sebuah pernyataan dewan.

Sementara itu, dalam komentarnya pada hari Senin, Erdogan menyatakan bahwa para pemimpin Eropa harus mengakhiri agenda yang diduga 'anti-Islam' Macron.

"Saya menyerukan kepada semua warga negara saya dari sini untuk tidak pernah membantu merek Prancis atau membelinya," ungkapnya.

Turki dan Prancis sama-sama anggota aliansi militer NATO, tetapi keduanya telah berselisih mengenai masalah-masalah termasuk Suriah dan Libya, yurisdiksi maritim di Mediterania timur, serta konflik di Nagorno-Karabakh.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Ombudsman RI Pelototi Tata Kelola Haji

Kamis, 23 April 2026 | 10:15

Kemlu Protes Spanduk "Rising Lion" Israel di RS Indonesia Gaza

Kamis, 23 April 2026 | 10:06

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp17.274 per Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 09:21

Kisah Epik Sang ‘King of Pop’: Film Biopik Michael Resmi Menggebrak Bioskop Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:18

Ketua KONI Ponorogo Sugiri Heru Sangoko Dicecar KPK Soal Pemberian Fee ke Sudewo

Kamis, 23 April 2026 | 09:15

MUI Minta Jemaah Haji Doakan Pemimpin Indonesia

Kamis, 23 April 2026 | 09:14

Bursa Asia Menguat: Nikkei Cetak Rekor

Kamis, 23 April 2026 | 09:07

Harga Minyak Kembali Tembus 100 Dolar AS

Kamis, 23 April 2026 | 08:58

Wall Street Perkasa Berkat Donald Trump

Kamis, 23 April 2026 | 07:41

Pentagon Pecat Petinggi Angkatan Laut John Phelan di Tengah Gencatan Senjata

Kamis, 23 April 2026 | 07:25

Selengkapnya