Berita

Pakar Kebijakan Publik Narasi Insititute, Achmad Nur Hidayat MPP/Net

Publika

Solusi Ekonomi Untuk Selamat Di Kuartal IV 2020

KAMIS, 22 OKTOBER 2020 | 15:34 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

SEBAGAIMANA kita ketahui, pandemi Covid-19 telah menyebabkan porak-poranda ekonomi dunia dan nasional. Kalangan pelaku bisnis begitu tertatih menyelamatkan usaha mereka akibat Covid-19. Pemerintah memprediksi tahun 2021 ekonomi berada pada level 4,5 hingga 5 persen. Kenyataannya, sulit dicapai. Potensi ekonomi tidak dapat 100 persen dicapai selama protokol kesehatan digunakan.

Bila 4,5 hingga 5 persen itu adalah asumsi kapasitas 100 persen digunakan maka angka realistisnya pertumbuhan ekonomi berada di bawah itu, Prediksi PodNarasi adalah 2,5 hingga 3,9 persen.

Protokol kesehatan mungkin akan direlaksasi tapi dihilangkan pada tahun 2021 masih jauh. Selama vaksin belum didistribusikan 100 persen kepada penduduk dewasa maka protokol kesehatan akan terus diberlakukan.


Dalam protokol kesehatan, tidak mungkin full capacity digunakan. Industri maskapai penerbangan hanya diizinkan 70 persen dan restoran-hiburan hanya melanyani 50 persen. Sementara overhead cost seperti karyawan, listrik harus dibayar penuh oleh pelaku usaha.

Dengan pembatasan tersebut kapasitas dunia usaha tidak akan berlangsung normal dan kondisi tersebut diprediksi berlanjut sampai akhir 2021.

Pemulihan ekonomi masih mengandalkan belanja negara karena pihak swasta masih tertatih mengkompensasi biaya operasionalnya.

Pola pemulihan ekonomi Indonesia yang hanya mengandalkan belanja negara akan membentuk pola U bahkan L dan sulit untuk mencapai pola kurva V.

Apabila terdapat gelombang kedua di tahun 2021 maka pola pemulihan ekonomi menjadi W.

Bagaimana Dengan Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2020 Ini

Bank Dunia, OECD dan IMF memproyeksi ekonomi Indonesia 2020 ini adalah terkontraksi 1 hingga 3 persen.  namun tahun depan akan better off meski tidak setinggi prediksi pemerintah 5 persen.

Bila daya serap belanja pemerintah tidak menggembirakan, kami memprediski 2020 diakhiri pertumbuhan negatif tipis di minus 1 persen hingga positif 1 persen. Bila daya serap belanja bagus pertumbuhan kuartal IV 2020 bisa positif 0,5 hingga 2 persen sehingga 2020 ditutup dengan pertumbuhan positif 0,8 hingga 1,5 persen.

Strategi Penguatan Sektor Jasa


Selain solusi belanja pemerintah, pemulihan ekonomi di tahun 2020 bisa melakukan relaksasi yang lebih cepat disektor jasa.

Seperti sektor Ekonomi Kreatif dan Hiburan. Bioskop dan pertunjukan kreatif bisa dibuka dengan cara konsumen melakukan tes PCR atau Swab sebelum  memasuki tempat pertunjukan tersebut. Namun test PCR senilai Rp 900 ribu masih terlalu mahal, harusnya ditekan sampai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu saja.

Bila menggunakan alat buatan anak negeri seperti di Yogjakarta dan hal tersebut dapat diterapkan secara nasional mungkin sektor ekonomi kreatif dan hiburan bisa menjadi andalam pertumbuhan ekonomi di kuartal IV 2020 ini.

Sektor yang menarik untuk di-share disini adalah sektor primer makanan dan minuman dimana data menunjukan masyarakat Indonesia menjamur berjualan makanan dan minuman dan publik saling membeli.

Mendorong Konsumsi Masyarakat Juga Strategi Berikutnya untuk Memulihkan Ekonomi Bisa Lebih Cepat

Demikian strategi kebijakan ekonomi yang dapat kami sampaikan. Kita harus mampu mempercepat vaksin terdistribusi untuk meningkatkan 100 persen Kapasitas ekonomi.

Kita harus mempercepat dan mengawasi belanja negara karena itu yang dapat diandalkan disaat sektor swasta sedang tertatih, kita perlu menurunkan lagi biaya PCR sampai di level 200 ribu dibandingkan saat ini 900 ribu dengan teknologi anak negeri.

Kita perlu memulai relaksasi dibeberapa sektor setelah harga PCR diturunkan salah satunya adalah sektor ekonomi kreatif dan hiburan.

Dan kita perlu mendorong bisnis primer dengan saling membeli dagangan tetangga karena itu memperkuat konsumsi masyarakat sebagai langkah awal pemulihan ekonomi di kuartal IV 2020.

Penulis adalah pakar kebijakan publik dari Narasi Insititute

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya