Berita

Ekonom senior Dr Fuad Bawazier menilai prediksi pertumbuhan ekonomi lebih pas diungkap oleh BI atau lembaga pemerintah lainnya, bukan oleh Menteri Keuangan/Repro

Politik

Sri Mulyani Gonta-ganti Prediksi Pertumbuhan Ekonomi, Fuad Bawazier: Mending Diam Saja

SELASA, 20 OKTOBER 2020 | 17:45 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi pandemi yang dilontarkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dikritisi ekonom senior Dr Fuad Bawazier. Terlebih, Sri Mulyani dengan gampangnya mengubah prediksi yang sebelumnya dia lontarkan.

“Memang kalau soal prediksi pertumbuhan ekonomi, ya Sri Mulyani mestinya enggak usah terlalu banyak komentar. Apalagi bolak balik ralat-ralat gitu kan. Biarin tunggu saja, kan punya lembaga resmi itu BPS, enggak usah terlalu jadi politisi,” tegas Fuad dalam acara virtual Obrolan Bareng Bang Ruslan bertajuk 'Setahun Jokowi-Maruf Rintangan Ekonomi Semakin Berat' yang digelar Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (20/10).

Lanjut politikus Partai Gerindra ini, ramalan atau prediksi pertumbuhan ekonomi akan berbeda dan bervariasi. Sehingga, menurutnya, lebih baik Sri Mulyani diam tidak perlu menyampaikan prediksinya ke ruang publik.


“Dari OECD dari Bank Dunia beda lagi, dari BI beda lagi, dari IMF beda lagi. Memang, ramalan-ramalan sekarang itu banyak ramalan-ramalan yang berbeda-beda, bervariasi. Dan sering direvisi, jadi Menkeu mending diem saja,” ujar Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII tersebut.

Menurutnya, sejak lama Menteri Keuangan di Indonesia tidak pernah sesumbar seperti Sri Mulyani dengan menyampaikan prediksi pertumbuhan ekonomi per kuartal.

“Karena dari dulu juga tradisinya Menkeu enggak banyak bicara soal pertumbuhan ekonomi itu. Malah lebih sering BI, karena BI dari dulu ada tradisinya dan ada lembaganya yang membikin kalkulasi perhitungan keuangan. BI maupun BPS yang mengumumkan secara final dan resmi,” imbuhnya.

Saat ini, kata Fuad, hampir semua orang bisa menyampaikan prediksi pertumbuhan ekonomi per kuartal. Pihaknya juga telah membuat prediksi, bahwa sejak kuartal kedua telah terjadi resesi.

“Tapi semua orang mengatakan prediksi yang berbeda-beda. Tahun ini akan negatif artinya ada kontraksi dan resesi, itu sebetulnya banyak ekonom yang bilang. Saya juga sudah menulis. Ketika sudah selesai dengan kuartal kedua, jangan bilang belum (resesi) nanti sampai kuartal ketiga. Bagi kami, sebetulnya sudah resesi di kuartal dua kemarin,” tandasnya.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

KPK Cium Skandal Baru Izin Tambang di Maluku Utara, Nama Haji Romo Ikut Terseret

Rabu, 01 April 2026 | 08:16

Wall Street Kembali Sumringah

Rabu, 01 April 2026 | 08:07

WFH ASN Diproyeksikan Hemat Kompensasi BBM Rp 6,2 Triliun

Rabu, 01 April 2026 | 07:53

Emas Melonjak 3 Persen, tapi Cetak Rekor Penurunan Bulanan Terburuk Sejak 2008

Rabu, 01 April 2026 | 07:42

RI Murka di DK PBB, Nilai Serangan TNI di Lebanon Tak Lepas dari Israel

Rabu, 01 April 2026 | 07:35

Pasar Saham Eropa Tutup Maret dengan Koreksi Terburuk dalam Empat Tahun

Rabu, 01 April 2026 | 07:24

Menhan AS Sebut Perang Iran Masuk Fase Penentuan

Rabu, 01 April 2026 | 07:17

Italia Gagal Lolos Piala Dunia Setelah Ditekuk 4-1 oleh Bosnia

Rabu, 01 April 2026 | 06:57

Katastropik Demokrasi Kita

Rabu, 01 April 2026 | 06:48

Soleman Ponto: Intelijen pada Dasarnya Teroris

Rabu, 01 April 2026 | 06:20

Selengkapnya