Berita

Saat India memasuki musim festival Oktober-November, ada kekhawatiran jumlah infeksi virus corona akan melonjak/Net

Dunia

Meski Kasus Melonjak, Orang India Sudah Tidak Takut Virus Corona

SELASA, 20 OKTOBER 2020 | 14:48 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Meskipun angka kasus virus corona di India sangat tinggi, tetapi aktivitas masyarakat sudah bergerak bahkan sejak beberapa minggu lalu. Orang-orang nampak terlihat sibuk di pabrik di Maharashtra hingga pasar yang padat di Kolkata. Kondisinya terlihat seperti kondisi sebelum pandemi. Apalagi, sesaat lagi mereka akan merayakan beberapa perayaan keagamaan.

Setelah penguncian yang ketat pada bulan Maret yang membuat jutaan orang berada di ambang kemiskinan, pemerintah dan orang-orang di negara terpadat kedua di dunia itu memutuskan bahwa hidup harus terus berjalan.

Sonali Dange, misalnya. Dia baru saja sembuh dari Covid-19 yang menimpanya minggu lalu. Namun, setelah penguncian dibuka, dia memutuskan kembali bekerjadi pabrik di mana dia mendapatkan 25.000 rupee (340 dolar AS) sebulan.


"Sekarang saya telah pulih, saya tidak lagi takut dengan penyakit itu," katanya kepada AFP di tengah hiruk pikuk mesin di pabrik Nobel Hygiene di timur Mumbai.

Pandemi telah membuat negara-negara miskin, juga negara berkembang, memiliki beban ekonomi yang cukup parah. Bank Dunia memperkirakan 150 juta orang bisa jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia.

Banyak anak di negara berkembang sekarang bekerja untuk membantu orang tua mereka memenuhi kebutuhan, kata para aktivis, sementara ribuan gadis muda telah dipaksa menikah.

IMF memproyeksikan PDB India akan menyusut 10,3 persen tahun ini, penurunan terbesar dari negara berkembang besar dan terburuk sejak kemerdekaan pada tahun 1947.

Ketika India melakukan penguncian, itu adalah bencana. Jutaan orang berada dalam ekonomi yang terpuruk.

Banyak orang India yang ketika penguncian dibuka, langsung berhambur mencari kerja untuk memperbaiki ekonominya. Sayangnya, aktivitas mereka tidak dibarengi dengan aturan menjaga jarak atau menggunakan masker.

"Untuk bertahan hidup, orang harus keluar dan melakukan pekerjaan mereka. Jika Anda tidak berpenghasilan, Anda tidak bisa memberi makan keluarga Anda," begitu kata orang-orang itu.

Para ahli memperingatkan bahwa musim Oktober-November - ketika umat Hindu merayakan festival besar seperti Durga Puja, Dussehra dan Diwali - dapat memicu peningkatan tajam infeksi, karena konsumen memadati pasar untuk membeli barang-barang mahal dengan harga diskon.

"Tentu saja corona harus ditakuti. Tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa melewatkan momen Durga Puja," kata seorang ibu. "Durga Puja datang sekali dalam setahun, jadi saya tidak bisa melewatkan kenikmatan berbelanja."

Sunil Kumar Sinha, ekonom utama di lembaga Pemeringkat dan Riset India yang berbasis di Mumbai, mengatakan orang India menghadapi pilihan yang sulit.

"Orang harus memilih apakah akan mati kelaparan atau berisiko terkena virus yang mungkin membunuh Anda atau tidak," katanya kepada AFP.

Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi dilema terkait hal ini. Namun, akhirnya dia melonggarkan penguncian. Sementara ahli epidemiologi di Universitas Michigan,  Bhramar Mukherjee, memperingatkan pemerintah seharusnya tidak membiarkan virus berkembang lagi dengan membiarkan orang-orang bertindak semaunya tanpa protokol kesehatan.

"Walau penguncian dilonggarkan atau dibuka, Anda tetap harus mentaati langkah-langkah kesehatan masyarakat," kata Mukherjee.

Bulan lalu, Asosiasi Medis India mengecam pemerintah Modi karena 'ketidakpedulian' terhadap pengorbanan staf garis depan di salah satu sistem perawatan kesehatan yang didanai terburuk di dunia.

"Masyarakat seolah menggampangkan masalah besar. Mereka seolah telah memusnahkan virus," kataAsosiasi itu.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

UPDATE

Korea Selatan Diisukan Bersiap Kerahkan Pasukan ke Selat Hormuz

Jumat, 04 September 2026 | 14:18

Purbaya Pamer Penerimaan Pajak Tumbuh 30 Persen Tanpa Naikkan Tarif

Jumat, 04 September 2026 | 13:59

Target Lifting 2027 Diproyeksi Tercapai, Sumur Rakyat Jadi Penopang

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Prabowo Tawarkan 138 Blok Energi Indonesia kepada Investor Rusia

Jumat, 04 September 2026 | 13:33

Gus Kikin Mulai Susun Kepengurusan PBNU di Hari Perdana Ngantor

Jumat, 04 September 2026 | 13:31

Label “No Pork, No Lard” Tak Otomatis Berarti Halal

Jumat, 04 September 2026 | 13:20

Kenaikan Tarif Masuk Ragunan Masih Ramah di Kantong

Jumat, 04 September 2026 | 13:12

Legislator Soroti Anggaran Pemulihan Kantor DPRD NTB-Sulsel Pasca Demo Agustus 2025

Jumat, 04 September 2026 | 13:08

Pembangunan Dapur MBG Pakai APBN Jangan Jadi Beban Negara

Jumat, 04 September 2026 | 13:06

Pemerintah Diminta Evaluasi Harga Eceran Tertinggi Beras

Jumat, 04 September 2026 | 13:01

Selengkapnya