Berita

Kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden/Net

Dunia

Biden Mengakui Dia Telah Salah Mendukung RUU Kejahatan 1994

JUMAT, 16 OKTOBER 2020 | 08:47 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dalam pertemuan di Balai Kota pada Kamis (15/10) malam waktu setempat atau Jumat pagi ini waktu Indonesia, kandidat presiden dari Partai Demokrat mengungkapkan penyesalannya telah mendukung Undang-undang Kejahatan 1994, di mana dia juga terlibat dalam perancangannya.

Undang-undang itu telah memicu protes yang luas selama bertahun-tahun semenjak disahkan.

Biden mengatakan, negaranya telah berubah secara drastis sejak 1994, mencatat bahwa banyak anggota parlemen Afrika-Amerika mendukung undang-undang tersebut.


Biden berdalih ada banyak ketentuan dalam (perancangan) UU itu yang ternyata ada sisi buruknya dan juga ada sisi baiknya. Salah satunya soal pelarangan senjata serbu sebagai aspek positif dari hukum.

Saat ditanya apakah mendukung rancangan undang-undang itu merupakan kesalahan, Biden pun tegas berkata, "Ya, benar."

Mengenai hukuman yang lebih keras untuk kepemilikan narkoba yang juga terangkum dalam undang-undang tersebut, Biden pun mengungkakan itu juga sebuah kesalahan. Pengguna narkoba harus direhabilitasi, bukan dipenjara. Dia juga menguraikan visi untuk reformasi polisi berbasis komunitas.

"Saya tidak percaya siapa pun harus pergi ke pengadilan narkoba untuk penggunaan narkoba," kata Biden seperti dikutip dari ABC, Jumat (16/10).

Sebelumnya, jauh sebelum dia mengumumkan pencalonannya untuk Pilpres 2020, dia telah mengakui bahwa dukungannya untuk undang-undang itu sebagai 'kesalahan besar'

Undang-undang tersebut, di tengah retorika "perang melawan narkoba" dan lonjakan penggunaan kokain, telah dikritik sebagai pertanda penahanan massal selama tiga dekade terakhir. Hukuman yang diberikan pun terlalu keras dan tidak proporsional yang kemudian berdampak pada orang kulit hitam sebagai kelompok yang paling sering bermasalah dengan kasus itu.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya