Berita

Wagub DKI, Ahmad Riza Patria, berharap Presiden Jokowi akan memberi kesempatan kepada Gubernur Anies untuk menyampaikan aspirasi massa yang berunjuk rasa menolak UU Cipta Kerja/Istimewa

Politik

Ariza Berharap Jokowi Beri Anies Kesempatan Bicara Soal Omnibus Law

SELASA, 13 OKTOBER 2020 | 17:50 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Dalam rapat bersama dengan Presiden Joko Widodo dan seluruh pimpinan daerah pada Jumat lalu (9/10) secara virtual, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi massa pengunjuk rasa yang menolak omnibus law UU Cipta Kerja.

Terkait hal ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menduga tidak diberikannya kesempatan kepada Anies untuk bicara lantaran waktu yang terbatas.

"Kemarin dalam rapat dengan pemerintah pusat memang ada dialog dan beberapa mendapat kesempatan. Kami juga menunggu untuk mendapat kesempatan, namun karena waktu dan lain hal mungkin, sehingga belum dapat kesempatan menyampaikan pendapat dan masukan," ujarnya di Balaikota DKI Jakarta, Selasa (13/10).


Pria yang karib disapa Ariza itu pun berharap, pada rapat selanjutnya, Gubernur Anies dapat menyampaikan aspirasi massa terkait omnibus law UU Cipta Kerja.

"Mudah-mudahan nanti di dalam rapat berikutnya saya kira seperti rapat sebelumnya, biasanya DKI dapat kesempatan pertama atau terakhir. Jadi pada rapat berikutnya kita akan sampaikan apa yang mungkin belum sempat disampaikan," jelas Ariza.

Dalam pertemuan yang berdurasi satu jam tersebut, Jokowi meminta para gubernur membantu pemerintah pusat menjelaskan UU Cipta Kerja kepada masyarakat di wilayahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi hanya memberikan kesempatan bicara kepada 5 gubernur. Yakni Gubernur Lampung Arinaldi Djunaidi, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, dan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji.

Sedangkan Anies yang wilayahnya menjadi tempat demonstrasi besar dan berakhir dengan bentrokan justru tidak mendapat kesempatan bicara.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya