Berita

Pakar militer dari Universitas Padjajaran Prof. Muradi/Net

Politik

Prabowo Dikecam AS Karena Borong Sukhoi, Prof. Muradi: Hal Yang Wajar

SENIN, 12 OKTOBER 2020 | 19:20 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Amerika Serikat mengecam langkah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang berencana memborong 11 pesawat tempur milik Rusia, yakni Sukhoi-35.

Pakar militer dari Universitas Padjajaran Prof. Muradi mengatakan wajar Amerika Serikat mengecam langkah Prabowo. Amerika juga sempat melakukan hal yang sama di era pemerintahan SBY ketika ingin membeli pesawat tempur dari Rusia.

“Ya sekarang kalau mengecam kan wajar. Sekarang begini lah, kita beli F35 gak dikasih, membeli sempat ditawarkan F3, F18 enggak dikasih juga. Tahun 2006 jaman Pak SBY dulu juga enggak dikasih,” ucap Prof. Muradi dalam acara diskusi virtual "RMOL World View", Senin (12/10).


“Jadi, kalau kemudian enggak dikasih, tapi enggak boleh beli dari orang lain kan aneh,” imbuhnya.

Muradi menyampaikan, seharusnya tidak ada intervensi dari pihak manapun ketika Indonesia ingin membeli pesawat tempur dari negara-negara sahabat. Salah satunya Rusia yang memiliki rekam jejak bersitegang dengan Amerika Serikat.

“Jadi sekarang saya bilang, paska perang dingin ini kita lebih leluasa ketimbang jaman ketika perang dingin. Kalau jaman perang dingin kan begitu kita beli pesawat tempur dunia kita akan dicap sebagai komunis dan sebagainya, sekarang orang sudah ringan saja begitu anda enggak mau (jual), saya pindah ke yang lain,” ucapnya.

Dalam rezim penjualan senjata era saat ini, kata dia, tidak dipungkiri ada banyak layer-layer dari negara lain. Layer pertama Amerika Serikat, kemudian Rusia, dan Uni Eropa.

Sehingga, menurutnya, Indonesia harus bisa menentukan sikap dengan mengetahui kebutuhan alutsista militer dalam negeri.

“Layer kedua misalnya agreement di Swedia itu SAAB juga kemudian ada misalnya Turki yang sudah mengembangkan industri pertahanannya, juga bawahnya lagi ada Korea, ada Brazil ada Indonesia, jadi layer-layer itu saya kira masih enggak berubah tinggal masalahnya kita butuhnya apa,” katanya.

Dengan kata lain, jika Indonesia telah mengetahui kebutuhannya, sekarang tinggal dipertimbangkan apa integritas dari pesawat tempur yang dibelinya terhadap geopolitik dengan negara-negara sahabat.

“Ketika penawarannya konkret, saya kira perlu dipertimbangkan juga, walaupun dalam bahasa yang kasar sejauh mana integrasi itu terhadap geopolitik kita. Karena, sejauh ini kan Rusia dan AS tidak segenting AS dengan China,” tandasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya