Berita

Para pengungsi Rohingya/Net

Dunia

22 Persen Pengungsi Rohingya Alami Trauma, Depresi Hingga Skizofrenia

MINGGU, 11 OKTOBER 2020 | 12:15 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kekerasan yang dialami oleh orang Rohingya di negara asalnya, ditambah dengan pelecehan dan berbagai diskriminasi membuat mereka rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dibagikan pada Sabtu (10/10) atau Hari Kesehatan Mental Dunia menunjukkan betapa besarnya penderitaan yang dialami oleh orang Rohingya. Di mana hampir satu juta di antaranya tengah mengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh.

Statistik menunjukkan, terdapat peningkatan orang Rohingya yang mengalami masalah kesehatan mental. Pada 2019, ada 14.819 konsultasi yang didaftarkan di antara pengungsi Rohingya di Cox's Bazar. Namun angka tersebut meningkat menjadi hampir 20 ribu sejak Januari 2020 hingga saat ini.


Di sana juga dijelaskan, banyak kasus harus ditangani oleh pusat perawatan kesehatan di kamp-kamp.

"Setelah krisis, satu dari lima (22 persen) diperkirakan mengalami depresi, kecemasan, trauma, gangguan bipolar atau skiofrenia," ujar jurubicara WHO, Catalin Bercaru kepada Arab News.

"Dampak psikososial dan sosial dari keadaan darurat mungkin akut dalam jangka pendek, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan psikososial jangka panjang dari populasi yang terkena dampak," sambungnya.

Seorang wanita Rohingya berusia 31 tahun, Amina B. mengaku tidak bisa melupakan kenangan buruk yang menimpa dirinya saat tinggal di Myanmar.

"Saya diperkosa oleh sekelompok orang. Mereka mengira saya sudah mati dan meninggalkan saya di dalam rumah. Ketika saya sadar, saya menemukan diri saya dikelilingi oleh tetangga di halaman saya. Mereka membawa suami saya pada hari itu, dan saya tidak pernah bertemu dengannya lagi. Setelah satu minggu, bersama beberapa tetangga, saya mulai berjalan menuju Bangladesh. Saya butuh delapan hari untuk mencapai Cox's Bazar," kisahnya.

Bukan hanya Amina, kenangan buruk itu juga permanen berada di benak anak-anaknya.

Orang-orang Rohingya diketahui sudah mengalami pelecehan dan trauma selama beberapa dekade sejak 1970-an di Myanmar. Ketika itu, ratusan ribu orang mengungsi ke Bangladesh.

Antara 1989 dan 1991, sebanyak 250 ribu orang kembali melarikan diri ketika Myanmar dilanda pemberontakan yang membuat nama asalnya, Burma, diganti.

Pada1992, Bangladesh dan Myanmar menyetujui kesepakatan repatriasi yang menyebabkan ribuan Rohingya kembali ke negara bagian Rakhine. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, ratusan ribu orang Myanmar kembali melakukan eksodus dengan dugaan tindakan militer yang berusaha melancarkan genosida.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya