Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Kebenaran Tentang Keampuhan 'Obat' Covid-19 Yang Digunakan Trump

JUMAT, 09 OKTOBER 2020 | 16:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Obat Covid-19 yang digunakan Presiden Donald Trump kini sedang menjadi sorotan benyak pihak. Permintaan terhadap antibodi Regeneron pun meninggi. Dua dokter yang terlibat dalam uji coba obat tersebut mengatakan saat ini banyak pihak yang meminta untuk berpartisipasi dalam uji coba obat tersebut.

Meskipun para ahli medis telah menunjukkan bahwa Regeneron atau REGN-COV2 masih dalam pengujian dan terlalu dini untuk menetapkannya sebagai obat Covid-19, tetapi tidak menghalangi orang untuk memesannya.

Beberapa jam setelah Trump memuji antobodi tersebut sebagai 'obat' untuk virus, Regeneron pun mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan perijinan ke Food and Drug Administration (FDA) untuk otorisasi penggunaan darurat obat tersebut pada hari Kamis, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat (9/10).


Seiring dengan itu, saham Regeneron dan saham Eli Lilly, perusahaan farmasi lain yang melakukan uji coba obat untuk perawatan antibodi, lansung melonjak pada Kamis.

“Kondisi Politik menunjukkan kepada saya bagaimana kisah Trump yang terpapar Covid berpengaruh... kemudian teknologi Amerika membuat orang-orang berpikir ini telah menyembuhkan Covid,” kata Dokter Dirk Sostman, kepala jaringan penelitian di Rumah Sakit Metodis Houston, sebuah situs percobaan untuk antibodi  Regeneron, seperti dikutip dari Reuters. "Saat ini ada lebih banyak pihak yang ingin ambil bagian dalam uji coba. Saya pikir akan ada tekanan pada regulator [untuk menyetujui obat],” katanya.

Meskipun Trump mengatakan bahwa 'ratusan ribu' dosis siap untuk digunakan, Regeneron mengatakan bahwa sebenarnya dosisnya cukup untuk 50.000 pasien dan akan cukup untuk 300.000 pasien dalam beberapa bulan mendatang.

Pada ujicoba fase pertama, sudah ada 275 pasien yang berpartisipasi.

AS memiliki lebih dari 7,5 juta kasus Covid-19 yang dikonfirmasi dan lebih dari 212.000 orang telah meninggal karena penyakit tersebut, menurut laporan Universitas Johns Hopkins.

Karena obat tersebut dalam uji klinis, obat ini hanya tersedia untuk pasien yang diterima dalam uji coba. Namun, dengan persetujuan dari FDA, perusahaan obat dapat menawarkan pengobatan kepada pasien yang tidak berpartisipasi dalam uji coba di bawah aturan penggunaan darurat atau 'penggunaan belas kasih' , yang dimaksudkan agar pengobatan dapat diakses oleh pasien dengan kondisi yang mengancam jiwa yang tidak memiliki terapi alternatif.

Regeneron mengatakan bahwa di bawah 10 orang telah diberi obat sesuai aturan.

Para dokter mengungkapkan keprihatinannya dalam akun Twitter tentang janji-janji kesembuhan sementara obat tersebut masih dalam tahap ujicoba.

“Kami tidak tahu apakah itu berhasil. Kami tidak tahu tentang hasil pasien karena belum cukup dipelajari. Terus terang, [Trump] adalah anekdot,” kata Dokter Rob Davidson, seorang dokter ruang gawat darurat di Michigan dan direktur eksekutif Committee to Protect Medicine, dalam sebuah video di Twitter.

Obat Regeneron hanyalah pengobatan terbaru yang digembar-gemborkan Trump sebagai obat untuk virus tanpa bukti yang menurut para ahli medis diperlukan untuk benar-benar memastikan pengobatan itu aman dan efektif.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya