Pertempuran di Nagorno-Karabakh/Net
Israel ikut andil dalam pertempuran antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh. Pasalnya, menurut intelijen, Israel telah mengirim senjata ke Azerbaijan.
Di tengah pertempuran yang semakin sengit, kehadiran pihak-pihak asing semakin membuat kompleks konflik Nagorno-Karabakh.
Sumber intelijen Amerika Serikat (AS) mengatakan, Israel telah mengirim pesawat dengan penuh senjata ke Azerbaijan selama akhir pekan.
"Israel memasok senjata ke (Azerbaijan), dua penerbangan kargo dari Israel telah mendarat di Baku," ujar sumber tersebut seperti dimuat
Al Arabiya, Rabu (30/9).
Israel dan Azarbaijan memiliki perdagangan besar untuk minyak dan senjata. Israel merupakan salah satu penyedia utama senjata ke Azerbaijan, meskipun Armenia secara resmi membuka kedutaan besarnya di Tel Aviv.
Ditanya tentang campur tangan Turki, sumber itu mengatakan Azerbaijan akan memiliki kekuatan militer di atas angin, kecuali Rusia melakukan sesuatu untuk Armenia.
"Pesawat tak berawak Turki itu tidak bisa dihentikan," tambah sumber itu.
Sementara itu, Penasihat Kebijakan Luar Negeri Presiden Azerbaijan Hikmet Hajiyev mengatakan kepada Axios bahwa kerjasama pertahanan Baku dengan Israel bukanlah rahasia.
Hajiyev juga dilaporkan mengatakan bahwa Azerbaijan menggunakan "drone kamikaze" Israel dalam pertempuran Nagorno-Karabakh.
"Jika Armenia takut dengan drone yang digunakan Azerbaijan, ia harus menghentikan pendudukannya," ujar pejabat Azeri.
Bentrokan hebat antara pasukan Azerbaijan dan Armenia atas wilayah Nagorno-Karabakh kembali meletus pada Minggu pagi (27/9) dan berlanjut selama empat hari berturut-turut.
Baik Baku maupun Yerevan saling menyalahkan atas banyaknya korban jiwa yang berjatuhan.
Kedua belah pihak saling menuduh menggunakan pejuang asing dan tentara bayaran. Turki, yang secara terbuka berbicara mendukung Azerbaijan dilaporkan telah mengirim pejuang dari Suriah ke Baku.
Rusia, yang memiliki pangkalan militer di Armenia, dituduh mengirim pejuang untuk membantu menopang pasukan Armenia.
Namun, Turki dan Rusia telah membantah ikut campur.
Pada Rabu malam, Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitranya dari Prancis Emmanuel Macron menyerukan gencatan senjata segera selama panggilan telepon keduanya.
Macron juga mengutuk komentar terbaru Turki yang dia anggap sembrono dan berbahaya.