Berita

WHO/Net

Dunia

WHO Geram Petugasnya Lakukan Pelecehan Seksual Kepada Puluhan Wanita Kongo

RABU, 30 SEPTEMBER 2020 | 12:54 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah menyelidiki tuduhan eksploitasi dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai pekerja badan PBB. 'Orang-orang' disebut sedang terlibat dalam penanganan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RDK).

Dalam keterangannya mereka mengatakan pimpinan staf marah atas laporan terbaru yang menyebutkan adanya sejumlah oknum petugas yang melakukan pelecehan seksual terhadap para wanita selagi mereka melakukan tugasnya di RDK.

"Tindakan yang diduga dilakukan oleh individu yang mengidentifikasi diri mereka bekerja untuk WHO tidak dapat diterima dan akan diselidiki dengan ketat," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP Selasa (29/9).


"Pengkhianatan terhadap orang-orang dalam komunitas yang kami layani adalah tercela," katanya, menekankan bahwa "kami tidak mentolerir perilaku seperti itu pada staf, kontraktor, atau mitra kami," lanjut pernyataan itu.

WHO menunjukkan bahwa mereka memiliki kebijakan tanpa toleransi sehubungan dengan eksploitasi dan pelecehan seksual.

"Siapa pun yang diidentifikasi terlibat akan dimintai pertanggungjawaban dan menghadapi konsekuensi serius, termasuk pemecatan segera," katanya.

Hingga saat ini ada lebih dari 50 wanita yang menuduh pekerja bantuan Ebola melakukan pelecehan seksual.

WHO tidak menguraikan tuduhan spesifik tersebut. Pernyataan itu muncul setelah laporan investigasi oleh The New Humanitarian menemukan bahwa lebih dari 50 wanita telah menuduh pekerja bantuan Ebola dari WHO dan organisasi non-pemerintah terkemuka melakukan eksploitasi seksual. Tuduhan itu termasuk memaksa mereka untuk melakukan hubungan seks sebagai upah pekerjaan.

WHO mengatakan direktur jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, telah memulai tinjauan menyeluruh atas tuduhan tersebut, serta meninjau masalah perlindungan yang lebih luas dalam pengaturan tanggap darurat kesehatan.

RDK saat ini sedang memerangi wabah Ebola baru di provinsi Equateur yang telah menelan 50 kematin sejak Juni dan sekitar 120 kasus terinfeksi.

Wabah saat ini adalah yang ke-11 di DRC, dan yang ketiga dalam dua tahun terakhir.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Muhammadiyah Himpun Rp6 Miliar untuk Korban Gempa NTT, Rp3,4 Miliar Telah Disalurkan

Sabtu, 05 September 2026 | 10:18

Emas Antam Ambruk Rp30.000, Termurah Dibanderol Rp1,3 Juta

Sabtu, 05 September 2026 | 09:19

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Hukuman Dua Pelaku Diringankan

Sabtu, 05 September 2026 | 08:50

Hari Pelanggan Nasional 2026, Pertagas Perkuat Layanan dan Keandalan Energi

Sabtu, 05 September 2026 | 08:14

112 Tersangka Kasus Karhutla Sudah Ditangkap, 55 Perkaran Dilidik

Sabtu, 05 September 2026 | 07:41

RUU Perampasan Aset Potensial Menjarah Aset Seluruh Rakyat

Sabtu, 05 September 2026 | 06:46

112 Tersangka Kasus Karhutla Ditangkap, Terbanyak di Riau

Sabtu, 05 September 2026 | 06:34

Muhammadiyah Layani Penyintas Gempa NTT

Sabtu, 05 September 2026 | 06:17

JHL Foundation Beri Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB

Sabtu, 05 September 2026 | 06:02

Operasi Modifikasi Cuaca Dioptimalkan di Kalbar dan Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 05:52

Selengkapnya