Berita

Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin/Net

Dunia

Sabah Jadi Uji Coba, Muhyiddin Yassin Percaya Diri Percepat Pemilu

SELASA, 29 SEPTEMBER 2020 | 08:14 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pemilihan umum (pemilu) yang digelar di negara bagian Sabah pada Sabtu (26/9) merupakan uji coba yang dilakukan oleh Perdana Menteri Muhyiddin Yassin untuk menggelar pemilu federal.

Memimpin Malaysia sejak Mahathir Mohamad mundur membuat kepemimpinan Muhyiddin diterpa banyak angin politik. Muhyiddin dianggap tidak memiliki legitimasi yang kuat karena membentuk pemerintahan bukan pilihan rakyat.

Alhasil, Muhyiddin ditekan untuk mempercepat pemilu, termasuk oleh koalisinya sendiri, Pekatan Nasional (PN).


"Tapi Muhyiddin masih mikir-mikir, kalau pemilu dipercepat, saya bisa menang apa ndak. Jadi dia ngitung-ngitung juga," begitu kata Associate Professor FAH UIN Jakarta, Sudarnoto Abdul Hakim dalam RMOL World View bertajuk "Rebutan Kusi PM Malaysia" pada Senin (28/9).

Namun akhirnya Muhyiddin semakin percaya diri ketika memenangkan pemilu Sabah yang dikenal sangat penting bagi Malaysia.

Koalisi Gerakan Rakyat Sabah (GRS) yang dipimpin oleh Muhyiddin berhasil mengggulingkan Kerajaan Warisan Sabah dengan memenangkan 38 kursi.

Dengan kemenangan tersebut, Sudarnoto mengatakan, kepercayaan diri Muhyiddin semakin tinggi untuk menggelar pemilu federal hingga akhirnya ia berjanji untuk mempercepat pemilu.

"Janji begitu, Sabah itu test case. Sabah itu kalau dia menang paling tidak konfidensi Muhyiddin naik," tutur Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional itu.

"Tapi ya belum tentu, pas pemilu federal kalau gabisa dijaga ya dia bisa jatuh juga. Paling tidak ini tes pertama karena Sabah dan Serawak itu sangat penting untuk ngetes apakah benar Muhyiddin mendapatkan legitimasi," tambahnya.

Sudarnoto mengurai, opsi yang paling mungkin untuk menyelesaikan krisis politik di Malaysia adalah dengan menggelar pemilu yang dipercepat.

Mengingat ada tekanan di dalam koalisi PN dan banyaknya kritikan dari oposisi mengenai legitimasi Muhyiddin.

"Menurut saya kekisruhan itu bisa diselesaikan lewat Yang di-Pertuan Agong. Yang di-Pertuan Agung bisa mengumumkan pemilu," ujarnya.

"Menunggu dia sembuh, saya kira Muhyiddin akan ketemu Yang di-Pertuan Agung. Kalau dia mau mengikuti janjinya, dia akan bilang ingin percepat pemilu," tandasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya