Berita

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar, Dave Laksono/Net

Dunia

Komisi I DPR: Kalau Vanuatu Tertarik Dengan Isu Papua, Ikuti Perkembangannya Tanpa Ikut Campur

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2020 | 11:19 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Vanuatu tidak seharusnya mencampuri urusan internal Indonesia dengan mengkritik isu HAM Papua di PBB. Termasuk perihal penembakan yang terjadi kepada Pastor Yeremia Zanambani baru-baru ini.

Penembakan Yeremia sendiri merupakan kasus pembunuhan ketiga yang menargetkan pendeta di Kabupaten Intan Jaya, Papua, sejak 2004. Di mana kasus penembakan tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar, Dave Laksono menuturkan, jika memang Vanuatu tertarik dengan isu Papua, negara pulau di Pasifik tersebut dapat mengikuti perkembangan penyelidikan yang sedang berlangsung, tanpa harus ikut campur.


"Itu kan dalam tahap penyelidikan, jadi tidak perlu negara lain mengurusi urusan internal domestik kita," kata Dave kepada Kantor Berita Politik RMOl pada Minggu (27/9).

"Kalau memang Vanuatu tertarik dengan isu Papua, ikuti perkembangannya toh kita lakukan penyelidikan secara transparan dan terbuka," sambungnya.

"Jangan kita ditekan secara internasional, diatur negara kecil yang juga memiliki permasalahan internal," imbuh Dave.

Dalam sidang Dewan HAM PBB ke-45 pada Jumat (25/9), perwakilan Republik Vanuatu, Antonella Picone mengkritik Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) yang dianggap belum memberikan laporan yang memadai mengenai diskriminasi terhadap suku asli Papua.

Ia mengklaim, warga suku asli Papua mengalami diskriminasi. Termasuk kekerasan yang dialami oleh Yeremia yang diduga dilakukan oleh TNI.

Menanggapi hal tersebut, Dave mengurai, saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan belum diketahui pelaku dari penembakkan, mengingat TNI dengan tegas menolak dugaan itu.

"Ini belum jelas penembakannya apakah oleh TNI atau OPM. Semuanya belum jelas dan masih dalam tahap penyelidikan yang semuanya terbuka," terang dia.

Selain itu, Picone juga mendesak Komite HAM di bawah Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR) untuk meminta pemerintah Indonesia memberikan data terkait hak sipil dn politik di Papua.

Sementara itu, Dave sendiri menyayangkan seruan Vanuatu tersebut karena tidak ada pelanggaran HAM berat di Papua, terlebih kasus itu masih belum dipastikan. 

Ia menyebut, pemerintah Indonesia dan sejumlah pihak, termasuk LSM internasional selalu mendorong pembangunan sumber daya manusia di Papua.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya