Berita

Perdana Menteri Lebanon Mustapha Adib mengumumkan pengunduran diri/Net

Dunia

PM Mustapha Adib Menyerah Dan Mundur, Prancis Tetap Tak Akan Tinggalkan Lebanon

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2020 | 06:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Perdana Menteri Lebanon yang baru ditunjuk, Mustapha Adib mengundurkan diri di tengah kebuntuan politik selama hampir sebulan untuk membentuk kabinet non-partisan.

Pengunduran diri yang dilakukan oleh Adib pada Sabtu (26/9) menjadi pukulan tersendiri bagi rencana Prancis untuk mengumpulkan para pemimpin sektarian dalam mengatasi krisis terburuk di Lebanon sejak perang saudara 1975-1990.

Dalam pengumumannya, Adib yang baru ditunjuk sebagai perdana menteri pada 31 Agustus mengaku pengunduran dirinya dilakukan karena ia menyadari kabinet yang ingin ia bentuk pasti akan gagal.


Meski begitu, ia mengatakan, Lebanon tidak boleh menyia-nyiakan niat baik Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

"Saya tekankan bahwa inisiatif ini harus dilakukan," katanya usai bertemu dengan Presiden Michel Aoun, seperti dilaporkan Reuters.

Alih-alih, mantan dutabesar Lebanon untuk Jerman itu berharap penggantinya dapat berhasil mengemban tugas berat untuk membentuk pemerintahan.

Sebelumnya, Adib tersandung dalam perselisihan mengenai pengangkatan sejumlah pejabat, terutama menteri keuangan yang akan memiliki peran kunci dalam menyusun rencana penyelamatan ekonomi.

Pembentukan kabinet menemui jalan buntu atas permintaan dua kelompok utama syiah, Amal dan Hizbullah, untuk posisi beberapa menteri termasuk keuangan yang sebelumnya dipegang oleh syiah.

Adib sendiri telah mengadakan beberapa pertemuan dengan politisi syiah, namun gagal mencapai kesepakatan.

Sementara, para pemimpin syiah takut dikesampingan karena Adib yang sunni berusaha untuk mengguncang penunjukan kementerian.

Menanggapi hal tersebut, seorang sumber yang dekat dengan Macron mengatakan, pengunduran diri Adib sama dengan pengkhianatan kolektif oleh partai politik. Meski begitu, ia menegaskan, Prancis akan tetap mendukung Lebanon.

"Sangat diperlukan pemerintah yang mampu menerima bantuan internasional. Prancis tidak akan meninggalkan Lebanon," ujar sumber tersebut.

"Ini adalah kemunduran, tapi kami tidak menyerah," sambungnya.

Krisis yang terjadi di Lebanon merupakan hasil dari beberapa dekade korupsi sitematis yang diperparah oleh pandemi Covid-19 dan ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus.

Perdana menteri sebelumnya mengundurkan diri setelah ledakan mematikan di Beirut yang merenggut lebih dari 190 orang dan 6.000 lainnya terluka.

Mohanad Hage Ali dari Carnegie Middle East Center mengatakan, faksi-faksi yang didukung oleh Iran kemungkinan ingin menghentikan pembentukan kabinet sampai hasil pemilihan umum Amerika Serikat (AS) pada 3 November.

Pasalnya, jika Presiden Donald Trump terpilih kembali, pemerintahannya akan menjatuhkan sanksi pada politisi Lebanon yang mendukung Hizbullah.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya