Berita

Presiden Joko Widodo saat pidato virtual di Sidang Umum PBB/Net

Suluh

Pidato Jokowi Menyentil Kepongahan China

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020 | 15:33 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

Pidato perdana Presiden Joko Widodo di Sidang Umum PBB pada Rabu (23/9) patut diapresiasi. Khususnya saat Jokowi menitikberatkan pidatonya pada pembenahan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Mulanya, mantan walikota Solo itu menjelaskan hakekat pembentukan PBB, yaitu untuk mencegah perang besar kembali meletus di muka bumi. PBB dibentuk 75 tahun lalu agar dunia bisa lebih damai, stabil, dan sejahtera. 


Masuk ke dalam inti kritiknya, Jokowi langsung mempertanyakan apakah PBB berhasil mewujudkan impian dunia tersebut. Tegas Jokowi menjawab, belum.


Konflik, kemiskinan, dan kelaparan yang masih berlangsung jadi acuan Jokowi memberi jawaban lugas. Secara substansi, Jokowi juga menilai bahwa prinsip-prinsip Piagam PBB dan hukum internasional yang kerap tidak diindahkan menjadi penyebabnya. Termasuk, penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.

Penghormatan pada kedaulatan dan integritas wilayah yang dipersoalkan Presiden Joko Widodo menarik diulas lebih jauh.

Apalagi jika menilik ketegangan Indonesia dengan China di Laut Natuna Utara, yang menjadi wilayah Indonesia. Di mana China selalu konsisten mengabaikan hukum internasional di kawasan tersebut dan menggunakan klaim kuno tentang perairan tradisional mereka.

Klaim nine dashed-line China di Laut China Selatan setidaknya telah mengabaikan kenyataan bahwa setelah Perang Dunia II banyak negara baru yang memiliki hak kedaulatan atas wilayah perairan yang diakui berbagai perjanjian internasional, seperti UNCLOS 1982.

Pengabaian China pada hukum internasional juga kembali ditunjukkan saat mereka digugat Filipina ke Permanent Court of Arbitration (PCA) di Belanda, tahun 2013. Di tahun 2016, PCA memutuskan bahwa China tidak memiliki hak atas perairan Filipina.

Tapi China seolah menganggap keputusan itu tidak ada dan melanjutkan eksplorasi di Laut China Selatan.

Di tahun 2019, China mulai masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia tanpa izin. Mereka bahkan marah karena Indonesia menggunakan nama Laut Natuna Utara untuk wilayah perairan Natuna yang menjadi hak kedaulatan Indonesia.

Ulah China ini membuat pemerintah Indonesia naik pitam. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi langsung mengeluarkan pernyataan sikap Indonesia tentang klaim China.

Menlu Retno mengaakan bahwa posisi Indonesia tidak akan pernah mengakui nine dashed-line atau 9 garis putus-putus yang diklaim China. Sebab, klaim itu tidak berdasarkan pada hukum internasional yang berlaku.

Kembali ke pidato Jokowi. Tentu Jokowi menimbang betul apa yang hendak disampaikan di podium Sidang Umum PBB. Permintaan agar PBB berbenah dengan cara membuat semua negara tunduk pada hukum internasional seolah menjadi jurus agar China tidak pongah.

Sekalipun memiliki hak veto, negeri tirai bambu itu tetap harus ikut dan patuh pada aturan bersama. China harus tetap hormat pada kedaulatan dan integritas wilayah lain.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya