Berita

Sebuah peternakan di Iowa/Net

Bisnis

Bagaimana Krisis Covid-19 Berdampak Pada Rantai Pasokan Makanan di AS?

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020 | 15:12 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Sebuah proyek baru dari Iowa State University tengah menyelidiki bagaimana krisis Covid-19 berdampak pada rantai pasokan makanan AS. Penelitian tersebut juga memperhatikan solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk mencegah gangguan di masa depan.

Keri Jacobs, seorang profesor ekonomi di Iowa State, mengatakan bahwa pandemi menyebabkan gangguan besar di sejumlah industri pertanian.

“Gangguan ini unik, karena kami tidak mengalami guncangan pada pasokan produk pertanian. Guncangan justru terjadi pada kapasitas pemrosesan kami melalui pengurangan tenaga kerja,” katanya, seperti dikutip dari Global Ag Media, Kamis (24/9).


Jacobs mencatat bahwa kurangnya tenaga kerja sangat bermasalah di industri pertanian, karena kapasitas pemrosesan dan seluruh sistem dibangun berdasarkan proses biologis untuk produk, seperti telur, susu, daging sapi, dan babi.

Di awal pandemi, ketika pembatasan diberlakukan, restoran, bar, dan sekolah ditutup. Hal itu tentu mengubah dengan cepat kebiasaan dan kebutuhan konsumsi makanan, yang kemudian juga menciptakan gangguan lebih lanjut dalam rantai pasokan.

"Pabrik tidak begitu saja bia beralih dengan cepat untuk memenuhi perubahan permintaan dan menyiapkan inventaris untuk pasar yang sudah tidak ada lagi," kata Jacobs.

Konsumen yang tinggal di rumah secara massal juga mengurangi kebutuhan akan bensin dan etanol, yang memiliki konsekuensi yang memengaruhi industri makanan.

"Karbon dioksida dan biji-bijian penyuling adalah produk sampingan dalam produksi etanol dan keduanya merupakan masukan penting dalam rantai pasokan lain," kata Jacobs.

Jacobs mencatat bahwa biji-bijian penyuling digunakan untuk memberi makan ternak. Karbon dioksida adalah pengawet dan masukan utama dalam produk cairan kemasan.

“Ketika permintaan etanol menurun, itu juga yang terjadi pada kedua produk sampingan tersebut. Jadi, dalam hal ini gangguan merembes ke sektor pengolahan pangan lainnya, ”ujarnya.

Untuk membantu memahami bagaimana dan mengapa Covid-19 mengganggu rantai pasokan pertanian seperti yang terjadi, serta membantu mencegah hal serupa terjadi di masa depan, Jacobs akan memimpin studi USDA yang baru didanai.

Proyek ini bertema 'Gangguan Rantai Pasokan Pertanian: Biaya dan Strategi Mitigasi untuk Meningkatkan Ketahanan Rantai Pasokan'.

Tujuannya untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan daging sapi, babi, susu, dan telur, di Midwest dalam menghadapi gangguan di masa depan.

Baru-baru ini proyek itu mendapat penghargaan hibah Program Respon Cepat Covid-19 Institut Nasional Pangan dan Pertanian selama dua tahun senilai 458.000 dolar AS. Hibah tersebut merupakan bagian dari lebih 14 juta dolar AS dalam pendanaan USDA yang diumumkan untuk membantu mempelajari masalah paling kritis yang dihadapi konsumen selama pandemi.

Tim peneliti proyek juga mencakup lima fakultas di Iowa State: John Crespi, Chad Hart dan Dermot Hayes, profesor ekonomi; Bobby Martens, profesor manajemen rantai pasokan; dan Lee Schulz, profesor ekonomi.

"Fokus jangka pendek kami adalah mengembangkan alat visualisasi data dan alat pengambilan keputusan berbasis harga dan volume forensik," kata Jacobs.

Alat visualisasi akan membantu produsen dan perusahaan pertanian mengenali dan beradaptasi dengan pemicu stres dalam sistem rantai pasokan, seperti wabah Covid-19 di masa mendatang.

"Kami tidak tahu apakah akan ada jenis gangguan lain yang mirip dengan Covid-19. Gangguan Covid-19  berpotensi untuk berkobar lagi pada musim gugur dan musim dingin ini atau ditambah dengan musim flu," katanya.

Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pertukaran pengembalian risiko dalam perubahan sistem pasokan untuk meningkatkan ketahanan di masa depan selama gangguan.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya