Berita

Ketua Umum Lembaga Pemantau Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (LPPC19-PEN) Arief Poyuono/Net

Politik

Arief Poyuono Yakin Resesi Berdampak Positif Bagi Masa Depan Ekonomi Bangsa

KAMIS, 24 SEPTEMBER 2020 | 07:45 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ancaman resesi ekonomi yang diumumkan Menteri Keuangan Sri Mulyani tidak akan berdampak buruk bagi masa depan perekonomian Indonesia. Sebaliknya, resesi yang terjadi justru akan bagus untuk perekonomian.

Begitu kata Ketua Umum Lembaga Pemantau Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (LPPC19-PEN) Arief Poyuono kepada redaksi, Kamis (24/9).

Mulanya, Arief mengurai definisi dari resesi ekonomi. Menurutnya, resesi terjadi saat ada pertumbuhan negatif dalam PDB di suatu negara selama dua kuartal berturut-turut.


Di mana pertumbuhan Indonesia Indonesia kuartal II sudah minus (-) 5,32 persen dan kuartal III diprediksi juga tetap pertumbuhan ekonomi juga minus (-) 2,9 persen.

Sementara mengenai dampaknya, resesi akan membuat orang kehilangan pekerjaan, perusahaan bangkrut, kredit macet diperbankan dan pemerintah mengalami defisit.

“Tetapi efek ini tidak lebih besar daripada efek positif dari resesi tersebut. Apalagi meski terjadi kontraksi ekonomi yang dalam, Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya. Banyak negara yang bahkan sudah masuk ke jurang resesi pada kuartal II lalu,” tegasnya.

Menurutnya, resesi baik untuk perekonomian nasional karena selama resesi akan terjadi seleksi lingkungan perekonomian sebuah negara, di mana perusahaan yang dijalankan secara benar dan sehat akan bisa bertahan.

Sementara yang beroperasi tidak sehat akan mengalami harus mengurangi pengeluaran mereka dan menjadi sehat untuk bertahan hidup.

“Dengan demikian persaingan menjadi adil kembali dan ini akan menguntungkan perusahaan yang selama ini sudah beroperasi secara sehat dan efisien,” tegasnya.

Dengan adanya resesi akibat dampak Covid-19, maka perusahaan-perusahaan akan berinvestasi dalam teknologi baru dan memperluas operasi mereka karena menjadi lebih murah.

Perusahaan yang kuat sekarang dapat mengambil alih perusahaan yang dijalankan tidak sehat, yang mengambil risiko, dengan harga yang jauh lebih rendah seperti sebelumnya.

Dengan cara ini beberapa karyawan di perusahaan yang berisiko dapat terus bekerja dan berada di perusahaan yang lebih aman.

Perusahaan yang sehat juga akan mendapat keuntungan dari kenyataan bahwa harga akan turun, misalnya biaya iklan akan turun, karena perusahaan yang tidak sehat harus mengurangi pengeluarannya.

“Oleh karena itu, perusahaan yang sehat akan tumbuh lebih jauh dan mampu menawarkan pekerjaan yang lebih aman bagi para pengangguran,” sambung ketua umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu itu.

Selama resesi, perusahaan yang beroperasi secara tidak efisien akan mengubah metode operasinya. Karyawan yang tidak melakukan pekerjaan dengan baik akan digantikan oleh karyawan yang lebih berkualitas.

Oleh karena itu, karyawan mulai berinvestasi pada diri mereka sendiri dengan melatih kembali diri mereka sendiri untuk pekerjaan mereka saat ini atau untuk pekerjaan yang sama sekali berbeda.

Para pekerja akan melatih diri mereka kembali pada pekerjaan di pasar yang sedang berkembang, dan di kebanyakan pasar yang inovatif, karena di pasar ini ada masa depan sementara di pekerjaan lama mereka tidak ada.

“Ini berarti pasar inovatif yang berkembang ini akan memiliki akses ke karyawan yang lebih berkualitas yang akan menguntungkan perusahaan karena ada lebih banyak pengetahuan dan juga akan menguntungkan karyawan dalam jangka panjang karena masa depan karyawan akan lebih terjamin,” demikian Arief.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya