Berita

Yoshihide Suga menggantikan Shinzo Abe sebagai perdana menteri Jepang/Net

Dunia

Selangkah Lebih Dekat Dengan Perdana Menteri Jepang Yang Baru, Yoshihide Suga, Sang 'Paman Reiwa'

JUMAT, 18 SEPTEMBER 2020 | 00:12 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pekan ini Jepang menyambut kehadiran perdana menteri baru pengganti Shinzo Abe, yakni Yoshihide Suga.

Suga dinyatakan resmi menjadi Perdana Menteri Jepang setelah mengantongi 314 dari 462 suara di majelis rendah Jepang pada Rabu (16/9). Sebelumnya pada Senin (14/9), Suga telah memenangkan pemilihan pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa.

Lantas, siapakah sosok Suga?


Sebenarnya, nama dan wajah pria 71 tahun ini tidak asing terutama bagi warga Jepang. Hampir satu dekade terakhir dia menjadi tangan kanan Abe, di mana dia menjabat sebagai Kepala Sekretaris Kabinet.

Sejak menjadi Kepala Sekretaris Kabinet itulah, hampir setiap hari selama delapan tahun terakhir, Suga terbiasa menanggapi berbagai pertanyaan wartawan, terutama di saat pemerintah menghadapi kritikan tajam. Mulai dari dugaan korupsi hingga kebijakan yang tidak populer.

Suga juga pernah menjadi perhatian publik ketika mengungkapkan nama era baru Jepang, yaitu Reiwa pada April tahun 2019 lalu, ketika Kaisar Akihito turun takhta. Suga mendapat kehormatan untuk mengumumkan nama era baru Jepang itu dengan mengusung papan bertuliskan huruf kanji "Reiwa"

Momen itu merupakan penghargaan yang tidak biasa yang membuat jutaan orang di dunia menyoroti bukan hanya nama era baru Jepang, tapi juga sosok Suga yang menyampaikan pengumuman itu.

Dikabarkan media Jepang NHK, hal itulah yang membuat Suga mendapat julukan "Paman Reiwa" di kalangan publik Jepang.

Terlepas dari kesuksesan karir politiknya saat ini, Suga kecil merupakan seorang anak yang tumbuh di luar dunia politik. Dia dibesarkan di Provinsi Akita di daerah pertanian stroberi milik orang tuanya.

Suga muda kemudian memasuki politik segera setelah lulus dari Universitas Hosei di Tokyo. Ketika itu dia mencalonkan diri sebagai dewan kota di Yokohama, ibu kota Prefektur Kanagawa.

Menurut informasi biografi yang diberikan oleh LDP, Suga muda tidak memiliki koneksi atau pengalaman politik apa pun sehingga dia berkampanye dari pintu ke pintu, mengunjungi sekitar 300 rumah sehari.

Dia pun berhasil menduduki jabatan kursi Dewan Kota Yokohama pertama kali pada saat usianya hampir 40 tahun.

Kurang dari satu dekade kemudian, Suga gencar melakukan kampanye di tingkat masyarakat untuk memenangkan kursi di Majelis Rendah. Sejak saat itu, karir politiknya semakin gemilang.

Meski begitu, Suga bukanlah kacang yang lupa kulitnya. Saat menjadi seorang menteri kabinet, dia mempromosikan berbagai kebijakan untuk membantu komunitas pedesaan yang sangat terpukul dengan perubahan demografi Jepang yang pesat.

Dalam menjalani kehidupannya, Suga memegang teguh moto hidup, "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan".

Selama menjabat sebagai Kepala Sekretaris Kabinet, Suga merupakan sosok yang juga membantu Abe menerapkan kebijakan ekonominya yang dikenal dengan istilah "Abenomics". Kebijakan dirancang untuk meningkatkan ekonomi Jepang.

Selama menjalankan tugasnya, dia rutin mengadakan konferensi pers setidaknya dua kali seminggu serta mengelola birokrasi Jepang yang rumit.

Mengingat latar belakangnya, Suga menjadi sosok yang memiliki citra sebagai pria yang mandiri. Hal ini berbeda dengan pendahulunya, Abe, yang ayahnya pernah menjabat sebagai menteri luar negeri sehingga memiliki koneksi dengan banyak pejabat dan pemimpin asing.

Meski begitu, Suga dan Abe kerap memiliki kesamaan pandangan terkait sejumlah isu, termasuk soal kembalinya warga Jepang yang telah diculik oleh Korea Utara pada tahun 1970an dan 80an.

Mengutip Arab News, Suga juga memainkan peran kunci dalam beberapa pencapaian perdagangan internasional utama Jepang saat Abe memimpin, termasuk dengan Uni Eropa. Dia juga membantu Abe membuka pasar makanan Jepang untuk lebih banyak produk asing.

Sementara itu, sejak terpilih untuk menggantikan Abe, Suga mengumumkan sejumlah inisiatif kebijakan yang direncanakannya sendiri. Di antaranya adalah restrukturisasi bank regional besar untuk membantu meringankan beban hutang mereka dan pengurangan biaya telepon seluler.

Menurut surat kabar Mainichi Jepang, Suga adalah sosok yang "gila kerja" alias workaholic. Rutinitas hariannya dilaporkan adalah bangun jam 5 pagi, diikuti dengan satu jam mengikuti berita harian dan kemudian berjalan kaki 40 menit dan melakukan 100 kali sit-up.

Dia selalu hadir tepat waktu di kantornya yakni jam 9 pagi dan tetap berada di sana sampai larut malam. Dia kemudian bertemu politisi atau akademisi saat makan malam untuk membahas kebijakan dan mendapatkan pandangan mereka.

Di luar pekerjaan, dia terkenal suka mengajak stafnya keluar untuk menyantap pancake. Suga terkenal menyukai makanan manis.

Kini, setelah resmi duduk di kursi Perdana Menteri Jepang, Suga mewarisi sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi di depan mata. Termasuk di antaranya adalah krisis ekonomi dan pandemik virus corona yang sedang berlangsung.

Sejumlah pakar menilai bahwa Suga akan melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan Abe untuk mengembangkan kebijakan luar negeri Jepang.

Dia diprediksi akan mengikuti jejak Abe dengan mengadopsi pandangan objektif tentang kebijakan luar negeri dan membina hubungan baik dengan tetangga Jepang, termasuk Korea Selatan dan Utara serta China. Dia juga diperkirakan akan terus memperkuat hubungan Jepang dengan Amerika Serikat.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya