Berita

Ilustrasi lockdown/Net

Suluh

Tunda Pilkada Atau Lockdown Nasional

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2020 | 09:54 WIB | OLEH: WIDIAN VEBRIYANTO

Pesta demokrasi akan tetap digelar di Indonesia meski wabah corona masih jauh dari tanda-tanda mereda. Uang dengan jumlah fantastis telah digelontorkan untuk rakyat berpesta memilih pemimpin daerahnya.

Sebanyak 270 daerah di Indonesia, meliputi 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota menjadi tuan rumah pesta yang akan digelar puncak pada 9 Desember 2020 tersebut.

Sebanyak 687 bakal pasangan calon kepala daerah telah mendaftar pada 4 hingga 6 September lalu.


Baru juga tahap pendaftaran, sebanyak 243 bapaslon sudah kena semprit Bawaslu. Mereka tidak memenuhi protokol kesehatan saat datang mendaftar ke KPU setempat.

Kondisi ini tentu tidak bisa dipandang sepele. Apalagi per Rabu (9/9), sebaran virus corona di tanah air sudah mencapai angka 203.342 kasus, di mana 8.336 orang dinyatakan meninggal.

Angka tersebut cukup memilukan lantaran sebaran pandemi di Indonesia belum mencapai titik puncak dan melandai sebagaimana negara-negara lain. Sebarannya lebih ke arah konsisten merangkak naik dari hari ke hari.

Semakin memprihatinkan lantaran 59 negara telah menutup wilayahnya untuk didatangi warga negara Indonesia (WNI). Mereka mengibaratkan kedatangan WNI sama saja mengimpor Covid-19.

Kenyataan ini seharusnya menyadarkan pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. Apalagi, Presiden Joko Widodo sudah menyatakan bahwa kesehatan rakyat merupakan yang utama dalam penanganan Covid-19.

Presiden Joko Widodo setidaknya masih punya sejumlah pilihan. Salah satunya pilihan ekstrem, yaitu menunda Pilkada Serentak 2020. Penundaan tidak hanya mencegah klaster baru corona, tapi juga bisa mengalihkan dana pilkada yang berjumlah hampir Rp 20 triliun untuk membantu warga yang kesusahan.

Baik itu untuk pengadaan internet bagi pelajar, bantuan langsung untuk warga, hingga bantuan-bantuan lain yang berefek langsung bagi perbaikan kesehatan dan ekonomi rakyat.

Namun demikian,Presiden Joko Widodo juga masih punya pilihan yang lebih moderat, yaitu melakukan lockdown nasional dan pilkada tetap bisa dilakukan dengan minimal risiko penularan corona.

Lockdown jangan ditafsirkan ke arah yang aneh-aneh. Sederhananya adalah puasa tidak berkeliaran selama masa inkubasi virus.

Pemerintah bisa menerapkan lockdown nasional selama 14 hari, tentu dengan pengawasan dan penindakan yang ketat. Termasuk memastikan bantuan pangan selama masa penguncian tersebut.

Jika dirasa masih kurang, pemerintah bisa melakukan lockdown 14 hari kedua. Tujuannya untuk memastikan bahwa sebaran virus benar-benar berkurang.

Langkah kedua ini cukup simpel. Dari tataran waktu juga masih memungkinkan dilakukan mengingat hari pencoblosan masih 3 bulan lagi, sedang lockdown hanya butuh waktu satu bulan. Sementara proses pilkada yang sudah berlangsung dan menggunakan uang negara bisa tetap dijalankan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya