Berita

Filsuf Hans Vaihinger/net

Jaya Suprana

Filsafat Andaikatamologi

MINGGU, 06 SEPTEMBER 2020 | 18:25 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

Pemikiran Lao Tse, Leibniz, Schopenhauer dan terutama Immanuel Kant tentang apa yang disebut sebagai keberadaan mengilhami pemikiran seorang filosof Jerman, Hans Vaihinger untuk menggagas filsafat andaikatamologi.

Universitas Halle

Hans Vaihinger dilahirkan pada tahun 1852 di Nehrem, Wuerttemberg, Jerman mengajar ilmu filsafat di Universitas Halle pada tahun 1884 sampai dengan terpaksa mempesiunkan dini pada tahun 1906 akibat gangguan daya penglihatan. Sejak 1876 Hans Vaihinger mulai menyusun buku pemikirannya dengan judul “Die Philosophie des Als Ob” (Filsafat berdasar andaikata) akibat merasakan bahwa apa yang disebut kehidupan sarat beban kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah secara tidak menentu maka mencari cara untuk menempuh kehidupan secara lebih bijak.


Pada tahun 1896 Vaihinger mendalami pemikiran-pemikiran Immanuel Kant didukung para pemikir mancanegara sehingga pada tahun 1904 mendirikan  Kant Gesselschaft sebagai paguyuban para pemerhati pemikiran Kant.

Analog Leibniz dan Schopenhauer pada hakikatnya pemikiran Vaihinger berupaya menghanyutkan diri ke dalam arus filsafat Das Sollen sebagai sukma pemikiran masyarakat Timur beda dari pemikiran masyarakat Barat yang cenderung mengutamakan Das Sein.

Ajakan

Die Philosophie des Als Ob gagasan Hans Vaihinger mengajak (bukan memaksa!) siapa pun yang mau diajak untuk mempelajari apa yang disebut fiksi atau khayalan sebagai eksperimen pemikiran agar bisa hidup (lebih) tenteram di tengah kehidupan yang irasional akibat penuh labirin kontradiksi dan paradoks dengan mulai pada pemikiran Immanuel Kant bahwa pengetahuan manusia terbatas pada fenomena tanpa mampu sempurna mengungkap apa yang disebut sebagai keberadaan.

Demi bisa bertahan hidup di tengah kemelut kontradiksi, sebaiknya manusia menggunakan daya pikir masing-masing untuk mengkonstruksi-konstruksi fiksional demi menjelaskan fenomena secara andaikatamologis bahwa seolah ada dasar rasional. Ada alasan rasional untuk percaya bahwa ada yang disebut sebagai kenyataan yang serba sempurna. Sesuatu eskperimen pemikiran yang tersirat pada khayalan yang tersurat pada dongeng, hikayat, mitologi, novel, utopia mau pun dystopia.

Kira-kira begitulah sebab bisa saja saya keliru menafsirkan filsafat andikatamologis Hans Vaihinger yang belum saya sempat jumpai pada masa beliau masih hidup sehingga saya belum sempat bertanya langsung ke beliau.

Pembelajar

Sebagai pembelajar pemikiran skeptisisme, saya bisa mengritik pemikiran Han Vaihinger sebagai mengada-ada, khayalan mubazir seperti seekor ular menelan ekornya sendiri atau Sisyphus mendorong batu ke puncak gunung untuk kembali menggelinding ke bawah gunung atau kita mencari seekor kucing hitam di sebuah ruang berdinding bercat hitam pada saat PLN memadamkan aliran listrik, padahal sebenarnya sama sekali tidak ada kucing hitam atau warna apa pun di dalam ruang hitam itu.

Jika ada yang menganggap pemikiran Hans Vaihinger bukan sains sepenuhnya saya dukung, sebab filsafat memang bukan sains. Namun sebagai seorang yang sudah berupaya mempelajari mahapemikiran para mahapemikir yang dianggap kelas langit di atas langit, saya juga sadar bahwa sebenarnya tidak ada pemikiran yang sempurna di alam semesta ini akibat tidak ada manusia yang sempurna, maka sertamerta tidak ada otak manusia, termasuk otak Aristoteles sampai Hawkings mampu sempurna mengungkap segenap makna segenap kehidupan di planet bumi apalagi di alam semesta ini.

Maka mohon dimaafkan bahwa saya memilih untuk tetap berupaya mempelajari Die Philosopie von Als Ob mahakarya Hans Vaihinger yang mengandung makna mirip andaikatamologi yang juga saya sedang coba pelajari bersama kelirumologi, alasanologi, malumologi, humorologi, pialaduniamologi, angkamologi dan lain-lain apa pun logi-logi. Selama mempelajari logi-logi belum dilarang UU Anti Pembelajaran Logi-Logi.

Penulis adalah Pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

UPDATE

Banjir, Macet, dan Kemiskinan di Jakarta Mendesak Dituntaskan

Senin, 23 Februari 2026 | 06:07

Jokowi Memang sudah Selesai, Tapi Masih Ada Gibran dan Kaesang

Senin, 23 Februari 2026 | 05:39

Tiga Waria Positif HIV Usai Terjaring Razia di Banda Aceh

Senin, 23 Februari 2026 | 05:28

Penakluk Raksasa

Senin, 23 Februari 2026 | 05:13

Kisah Tragis Utsman bin Affan: 40 Hari Pengepungan, Satu Mushaf Berdarah

Senin, 23 Februari 2026 | 04:26

Kebangkitan PPP Dimulai dari Jabar

Senin, 23 Februari 2026 | 04:10

Prabowo Tak Beruntung terkait Tarif Trump

Senin, 23 Februari 2026 | 04:05

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

Tembok Ratapan Solo Jadi Potret Wajah Kekuasaan Jokowi yang Memudar

Senin, 23 Februari 2026 | 03:27

Persib Kokoh di Puncak Klasemen Usai Tekuk Persita 1-0

Senin, 23 Februari 2026 | 03:00

Selengkapnya