Berita

Ketua KPK Firli Bahuri saat bernanyi bersama putranya/RMOL

Hukum

Kesederhanaan Firli Bahuri Berkaos Sambil Nyanyi Lagu Sewu Kuto Diiringi Gitar Sang Putra

SABTU, 05 SEPTEMBER 2020 | 19:46 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Sosok ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Komjen Firli Bahuri, belakangan ternyata memiliki jiwa seni. Meski disibukkan dengan rutinitas yang padat, namun perwira tinggi Polri berbintang tiga itu selalu menyempatkan waktu untuk keluarga.

Salah satunya berkomunikasi dan bermain musik bersama sang anak yakni Rizqi Arfiananda Dhira Putra, Sabtu (6/9).

Kesederharanaan Firli terlihat saat ia hanya mengenakan kaos berwarna putih dan menyanyikan lagu bersama anaknya yang mengenakan baju berwarna merah yang sedang memainkan gitar di sebelahnya.


Namun, tak disangka, suara Firli begitu mempesona dan fasih menyanyikan lagu Jawa berjudul ‘Sewu Kuto’ yang dipopulerkan Didi Kempot.

Saat ditanya wartawan terkait hobinya itu adalah benyanyi, Mantan Kabaharkam Polri itu menyatakan bahwa hidup perlu keseimbangan dan mendapatkan makna dari kehidupan.

"Dalam hidup diperlukan keseimbangan. Agar arah dan tujuan hidup selalu bermakna. Dalam setiap makna hidup kita mengambil hikmah dibaliknya," kata Firli kepada wartawan, Sabtu (5/9).

Dia menyatakan tak sembarangan memilih lagu ‘Sewu Kuto’ yang beraliran Campur Sari. Ada alasan tertentu, bahwa lirik lagu Sewu Kuto itu sangat bagus dan berdimensi filosofis.

"Dalam hidup kita tidak boleh berbohong, kita tidak boleh berdusta. Dalam lagu Sewu Kuto, ada kalimat “Aku Ora Ngapusi.” Artinya, aku tidak berbohong, kita harus jujur. Sama dengan memberantas korupsi, kita harus tanamkan sikap jujur ini," ujarnya.

Firli juga kadang menukil penulis Boris Pasternak yang menjadi salah satu penulis yang dia idolakan terutama pada kutipan "Man is born to live, not to prepare for life".

Sebelumnya Firli juga sudah mengungkap alasan mengapa memilih lagu Sewu Kuto. Ketika diwawancarai wartawan, ia mengaku lagu itu dia pilih karena syairnya bagus. Yakni ribuan kota sudah dilaluinya, jutaan hati juga sudah ditanyakannya. 

"Kenapa konsep itu saya pakai? Ada dalam sebuah buku yang ditulis oleh Boris Pasternak di situ disebutkan bahwa man is born to live, and not to prepare for life. Maknanya adalah setiap orang yang lahir hanya untuk hidup, tapi tidak disiapkan untuk hidup dan kehidupannya. Sehingga lagu itu syairnya cukup bagus," tuturnya.

"Seandainya kau sudah mulia, saya juga rela. Kira-kira begitulah.Jadi lagu itu kalau kita betul-betul maknai sangat dalam, semua sudah dilakukan, tetapi yang jelas ada kata dia tidak pernah berbohong, dia tidak pernah berdusta. Artinya adalah itu konsep naluri seseorang. Bahwa sesungguhnya manusia itu tidak boleh berbohong dan tidak boleh berdusta. Itu sebetulnya," sambungnya menerangkan.

Dalam menjiwai lagu itu, Firli juga mengungkapkan bahwa makna lagu itu sangat luas tidak hanya melulu tentang percintaan.

"Tapi itu adalah gambaran yang lebih luas. Contoh, seandainya ada satu lagu, mungkin kalau kita lihat itu misalnya Andaikan Kau Datang. Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Itu sebetulnya, kalimat itu adalah kalimat seketika masuk dalam alam kubur yang begitu gelap dan kita tidak akan pernah kembali.Itu maknanya. Jadi seketika seseorang membuat lagu, itu tidak hanya susunan kata dan kalimat. Tapi begitu dalam maknanya.  Mampukah kita menyelami makna itu?" tuturnya.

Firli menambahkan, dia belajar menyanyi ketika pertama setelah masuk Akpol tahun 1987. Baginya, ada pesan dan makna perjuangan yang tidak hanya bisa dilewatkan begitu saja.

"Kehidupan saya kan tidak lepas dari kampung. Enam kali daftar Akpol tidak lulus. Tahun 82, 83, 84, 85, 86, dan 87 saya baru lulus. Artinya tahun 87 saya menapakkan kaki di Jawa, masuk Akpol," ucapnya.

"Seperti yang tadi saya bilang, man is born to live, but not to prepare for life. Seketika orang menghadapi suatu cobaan, itu bisa saja dia akan putus asa dan akan patah semangat. Tetapi saya tidak begitu. Saya katakan bahwa manusia itu memang lahir untuk hidup, tetapi dia tidak disiapkan untuk hidup selanjutnya,karenanya kita harus mempersiapkan hidup dan kehidupan," imbuhnya.

Firli menegaskan, negara kesatuan Republik Indonesia telah dilahirkan dan didirikan. Sekarang saatnya bagi semua anak bangsa melanjutkan perjuangan hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

"Begitupun kondisi kita sekarang, tentu kita harus berjuang karena perjuangan itu belum berakhir dan kita diwajibkan untuk belajar, mencari ilmu, bahkan diwajibkan untuk mengejar ilmu itu sampai ke negeri China. Maknanya sangat dalam," tutupnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya