Berita

Presiden Donald Trump dalam Briefingya dengan wartawan di Gedung Putih/Net

Dunia

Donald Trump Ragu Soal Keracunan Navalny: Sejauh Ini AS Tidak Punya Bukti

SABTU, 05 SEPTEMBER 2020 | 10:29 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Amerika Serikat (AS) meragukan bahwa oposisi Rusia Alexei Navalny telah diracun. Presiden AS Donald Trump pada briefing harinya, Jumat (4/9) mengatakan AS menyoroti dengan serius kasus tersebut tetapi sejauh ini ia belum melihat adanya bukti ke arah itu.

“Saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya pikir ini tragis, mengerikan, seharusnya tidak terjadi. Kami belum punya bukti, tapi saya kembali mencermatinya lagi," katanya, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (5/9).

Trump menekankan AS akan mempelajari lebih dalam lewat dokumen-dokumen yang diterimanya.


"Saya akan sangat marah jika itu masalahnya, jadi kita lihat hasil penelitian dan dokumennya, karena kita akan dikirim banyak dokumen dalam beberapa hari ke depan," tambah Trump.

Ketika ditanya apakah dia punya alasan untuk meragukan data Berlin tentang Navalny, Trump buru-buru mengatakan bukan seperti itu yang dimaksudnya.

"Tidak, saya tidak tahu. Saya dengar Jerman telah membuat -apakah itu pasti atau hampir pasti- tetapi kami belum melihatnya sendiri. Saya pasti akan baik-baik saja dengan itu. Mereka ingin melakukan sesuatu, mereka ingin mengambil tindakan," kata Trump.

Pemimpin AS itu menambahkan bahwa "tidak ada yang lebih keras di Rusia" selain dia, lalu berbicara panjang lebar tentang upaya diplomatiknya di Korea Utara dan non-proliferasi nuklir di Rusia.

"Sangat menarik bahwa setiap orang selalu menyebut Rusia. Tapi saya pikir mungkin China pada saat ini adalah negara yang harus Anda bicarakan lebih banyak daripada Rusia," ujar Trump tiba-tiba.

Minggu ini Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengungkapkan bahwa tes di laboratorium militer telah mengidentifikasi dengan tegas bahwa kritikus Kremlin Navalny telah diracuni dengan agen saraf novichok dan menyebut kasus tersebut sebagai percobaan pembunuhan.

Pada hari Jumat, NATO mengutuk serangan itu sebagai 'mengerikan' dan menyerukan mereka yang bertanggung jawab untuk dibawa ke pengadilan.
“Berkali-kali kita telah melihat pengkritik rezim [Vladimir Putin] diserang dan diancam. Bahkan, beberapa telah terbunuh,” kata juru bicara Piers Cazelet.

Rusia hingga kini belum membuka penyelidikan kriminal dan mengatakan belum ada bukti kejahatan. Pada hari Jumat ahli toksikologi dari Omsk Rusia, Alexander Sabayev, mengungkapkan penemuannya bahwa Navalny jatuh sakit sebelum dirawat, mulai dari stres, masalah pencernaan, diet, dan kurang sarapan.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya