Berita

M. Rizal Fadillah/Net

Publika

Jangan Menjadi Bangsa Kodok

SABTU, 05 SEPTEMBER 2020 | 07:45 WIB

HEWAN sering jadi perumpamaan.

Manusia yang sering beriringan dan bertegur sapa silaturahim dimisalkan komunitas semut. Mereka yang selalu menjaga masukan dan bagus keluaran itulah lebah. Anjing adalah tipe penista, diusir menjulurkan lidah, dipanggil juga menjulurkan lidah.

Babi itu hewan yang tak pedulian dan jorok. Bebek "ikhlas" digiring-giring. Macan ditakuti dan disegani. Macan Asia adalah gelar pertumbuhan ekonomi negara Asia yang dikagumi.


Kodok hidup di dua alam. Berenang dengan menendang dan berjalan di darat melompat. Bersuara ramai tak berirama. Umumnya menjijikkan. Manusia dinilai aneh jika hobby memeliharanya. Dimakan oleh orang-orang aneh pula. Anak kodok hanya kepala dan ekor.

Berubah bentuk saat dewasa. Cebong, sebutan anak kodok, hanya hidup di air. Mati di darat. Harus selalu "berbasah-basah".

Bangsa Indonesia yang beragama dan berbudaya jangan menjadi bangsa kodok. Bangsa inkonsisten yang diombang ambing "alam". Mudah berubah tergantung pada koloni atau hegemoni.

Selalu maju ke depan tak bisa mundur, aib rasanya untuk mundur. Ketika maju di tempat basah perlu menendang sana sini. Di tempat kering melompat lompat cari makan dan keamanan.

Bangsa kodok adalah bangsa yang nyaman dibodohi dan dininabobokan. Dibunuh pelan-pelan dengan "kehangatan". Dimakan ideologi asing tanpa terasa secara halus dan sistematis. Adapun yang mahir membunuh tanpa belas kasihan adalah Komunis.

Dalam artikel "A Nation of Frogs" William A. Borst, Ph.D. menulis dengan pas tentang komunis yang "memasak" bangsa kodok.

"The fact is Communism is still very much alive  and thriving in this country. It has taken on a more subtle, destructive guise. The situation is analogous to the frog that is put into a pot of tepid water. If the cook were to quickly increase the temperature of the water, the frog would quickly jump out to safety. But the smart cook increases the temperature, only gradually, so that the poor frog does not realize it is being slowly but surely boiled to death".

Nah begitulah komunis membuat nyaman dan secara pelan-pelan dan bertahap membunuh bangsa kodok.

Indonesia harus waspada pada negara Komunis RRC yang mampu menghangatkan secara gradual hingga panas yang mematikan. Investasi dan debt trap adalah jalan "the poor frog doesn't realize it is being slowly but surely boiled to death".

Sekali lagi penyelenggara negara jangan berupaya menciptakan kondisi rakyat menjadi bangsa kodok. Sadarlah bahwa itu sama saja dengan menjerumuskan rakyat dan bangsa Indonesia ke dalam panci besar "perebusan" kematian.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik dan kebangsaan.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya