Berita

Gedung Mahkamah Konstitusi di Jakarta/Net

Politik

Rizal Ramli Dkk Ajukan JR, Pengamat: Presidential Threshold Memang Kontraproduktif Dengan Demokrasi

JUMAT, 04 SEPTEMBER 2020 | 14:35 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Desakan untuk menghapus presidential threshold (PT) alias ambang batas pencalonan presiden terus berdatangan dari berbagai pihak.

Penerapan ambang batas ini dinilai hanya merusak iklim demokrasi dan merampas hak parpol untuk bisa dalam mengajukan calon presidennya. PT 20 juga mengabaikan hak rakyat untuk bisa mendapatkan opsi calon pemimpin yang lebih banyak dan berkualitas.

Atas dasar hal tersebut, sejumlah tokoh nasional pun akan mendatangi Mahkamah konstitusi, siang ini, Jumat (4/9).


Didampingi pakar hukum tata negara, Refly Harun, tokoh bangsa Dr. Rizal Ramli dan Abdul Rachim akan melakukan judicial review (JR) tentang presidential threshold atau ambang batas pemilihan presiden.

Menanggapi polemik presidential threshold ini, pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas), Andi Yusran berpendapat, PT presiden memang kontraproduktif dengan upaya membangun sistim politik yang demokratis.

"Karena PT akan membuat biaya ekonomi tinggi dalam politik elektoral, seperti dalam pemilu, PT juga menstimulus maraknya transaksi 'fulus' antar aktor politik dalam membangun koalisi," ungkapnya saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (4/9).

Selain itu menurut Andi, ketika pemilu legislatif bersamaan pelaksanaannya dengan pemilihan umum presiden, maka PT menjadi tidak lagi relevan.

"Sejatinya setiap partai yang lolos sebagai partai peserta pemilu memiliki hak mencalonkan kadernya dalam kontestasi pilpres,"  jelas Andi.

Untuk diketahui, presidential threshold yang tercantum dalam UU 7/2017 tentang Pemilu, mengatur tentang syarat partai atau gabungan partai yang boleh mengusung pasangan capres dan cawapres.

Di mana parpol pengusung capres dan cawapres harus memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah di level nasional. Dengan kata lain, PT akan membatasi munculnya calon-calon pemimpin potensial yang dimiliki bangsa ini.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya