Berita

Dutabesar Republik Indonesia untuk Kolombia pada tahun 2012-2017, Trie Edhi Wahyuni/Net

Dunia

Kolombia Belajar Dari Indonesia Soal Perdamaian Dengan Kelompok Pemberontak

KAMIS, 03 SEPTEMBER 2020 | 10:05 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Mengemban tugas diplomasi Indonesia di negara lain bukan merupakan hal yang mudah. Namun hal tersebut agaknya berhasil dilalui oleh seorang wanita bernama Trie Edhi Wahyuni. Dia adalah Dutabesar Republik Indonesia untuk Kolombia pada tahun 2012-2017.

Dalam webinar yang digelar oleh Farah Magazine bertajuk "Who's That Women? Pengabdian Ribuan Mil Di Tengah Amuk Kriminalitas Kolombia" pada Rabu, (2/9), Trie mengakui bahwa tugas yang pernah dia emban bukanlah tugas yang mudah.

"Memang tidak mudah untuk membuat satu achievement di sebuah negara yang bahkan ada orang atau pejabat yang tidak tahu Indonesia," jelas Trie.


Bahkan ketika pertama kali memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, tidak jarang dia mendapatkan pertanayaan "Donde esta?" yang artinya adalah "Di mana itu?".

"Saya jawab, begini deh, jika kamu menggali tanah ini (di Kolombia), sampai menembus ke bawah, nah Indonesia ada di sisi lainnya Kolombia. Jadi separuh belahan dunia ini," jelas Trie.

Karena banyak pihak belum familiar dengan Indonesia, Trie pun menuturkan bahwa dia perlu banyak meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada banyak pihak soal seluk beluk Indonesia.

"Saya mencoba mengetuk pintu mereka ketika saya datang ke sana (bertugas di Kolombia). Karena di sana (posisi dutabesar) sempat kosong agak lama. Jadi saya mulai lagi. Mengetuk pintu satu per satu para pejabat, menteri, tokoh. Saya datangi satu per satu dan saya memperkenalkan diri," cerita Trie.

"Karena saya punya pikiran bahwa jika tidak kenal, bagaimana mereka bisa sayang? Kalau tidak kenal dan tidak sayang, bagaimana akan menjalin kerjasama?" tambahnya.

Oleh karena itu, Trie pun membangun dari awal hubungan dengan para pejabat dan tokoh terkait di Kolombia dan menjalin hubungan baik sebagai langkah tepat untuk membuat deal-deal.

Upaya yang dilakukan Trie pun membuahkan hasil. Selama lima tahun mengemban tugas sebagai dutabesar di Kolombia, banyak pencapaian yang berhasil ditorehkan. Bukan hanya B2B, alias sektor bisnis, tapi juga dalam banyak sektor lainnya.

"Yang saya tidak lupa adalah salah satu kerjaama terkait dengan dukungan proses perdamaian, ketika pemerintah Kolombia berusaha melakukan perdamaian dengan FARC," jelasnya.

"Saya tidak lupa, karena tim ahli perdamaian kita dari Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi datang ke sana dan melakukan pembicaraan, memberikan advice soal bagaimana menyelesaikan konflik, terutama masalah disarmament (pelucutan senjata), pemberian amnesty, reintegrasi," sambung Trie.

Menurutnya, Kolombia kagum dengan pengelolaan dana yang akuntabel dan transparan ketika penyelesaian masalah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

"Mereka (Kolombia) banyak belajar tentang hal-hal itu dan tim ahli perdaaian Indonesia betul-betul melakukan misinya dengan sangat tepat dan baik karena tidak lama setelah itu terjadi penandatanganan perdamaian antara pemerintah Kolombia di bawah Presiden (Juan Manuel) Santos dengan FARC," papar Trie.

Selain itu, sambung Trie, pada saat menjalankan tugasnya di Kolombia, dia pun membantu memfasilitiasi kesepakatan antara Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia di bawah kepemimpinan Budi Waseso dengan Kepolisian Kolombia soal pemberantasan jaringan obat-obatan terlarang.

"Jadi perjanjiannya soal pembatasan produksi, pasaran peredaran narkoba dan lain sebagainya," ungkap Trie.

Hal lain yang juga terjalin adalah pertukaran pelajaran serta dalam bidang olaharaga dan seni.

"Banyak hal yang berhasil dibangun di samping juga kerjasama B2B (Business to Business)," tandasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya