Berita

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan/Net

Hukum

Jadi Korban PHK Sepihak, Eks Karyawan Gugat Yayasan KAN Ke PN Jakarta Selatan

SELASA, 01 SEPTEMBER 2020 | 00:38 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

The Nature Conservancy (TNC)-LSM asal Virginia, AS dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (Y-KAN) yang berkedudukan di Jakarta digugat oleh mantan karyawannya.

Gugatan itu sendiri telah didaftarkan pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 654/Pdt.G/2020/PN.Jkt Sel pada tanggal 18 Agustus 2020.

Kuasa hukum penggugat dari SRS Lawyers, Mohammad Adnan Rifky mengatakan, ada dua permasalahan hukum yang perlu dipisahkan dalam perkara ini.


Pertama, Y-KAN dianggap telah melakukan PHK sepihak kepada karyawannya yang berprestasi sebelum perjanjian kerja berakhir. Karyawan yang dimaksud adalah kliennya yang selama bekerja menghimpun dana dari donatur untuk kegiatan konservasi daratan dan air di Indonesia mendapatkan lebih dari 1,9 juta dolar AS.

“Jumlah yang diperoleh itu diproyeksikan dapat membiayai kegiatan di Indonesia selama 3-5 tahun ke depan, tetapi faktanya klien kami di-PHK tanpa alasan yang jelas,” ujar Adnan di Jakarta, (31/8).

Dijelaskan Adnan, masalah kedua, gugatan perbuatan melawan hukum sehubungan dengan dugaan TNC dan Y-KAN tidak menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).

Diketahui, Y-KAN adalah afiliasi dari TNC dan bersama-sama menjaga kelestarian daratan dan air di wilayah Republik Indonesia sesuai dengan misi TNC berdasarkan perjanjian kerja sama (cooperation agreement).

Mewakili kliennya, Adnan mengatakan, pihaknya menganggap kedua LSM itu telah melakukan perbuatan melawan hukum yang berlaku di Indonesia.

“Ada beberapa poin utama yang menjadi materi dalam gugatan kami. Pertemuan bipartit untuk menyelesaikan perselisihan industrial antara pekerja dan pemberi kerja,” kata Adnan.

Y-KAN sebagai yayasan yang mengemban misi sosial dengan modal para donor, malah mengadakan pertemuan di Restoran Plataran Menteng, sebuah restoran mewah untuk kalangan orang-orang kaya Indonesia.

Dalam pertemuan yang dihadiri tim kuasa hukum penggugat bahkan dirinya tidak berani memesan makanan karena membayangkan apabila dana yang dipergunakan untuk pertemuan tersebut berasal dari para donatur, yang tujuannya untuk melestarikan daratan dan air di wilayah Republik Indonesia.

Selain itu, Y-KAN tidak transparan kepada para donatur bahwa setiap proposal bantuan dana yang disajikan kepada donatur, ternyata disisihkan sebagian untuk membayar lisensi dari Y-KAN kepada TNC tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada para donatur.

Baik lokasi perundingan bipartit dan tidak transparannya Y-KAN tadi, terbukti tidak mencerminkan nilai-nilai kode etik yang dijunjung tinggi oleh TNC.

Di sisi lain, kata Adnan, TNC turut digugat karena berdasarkan Pasal 9 Perjanjian Lisensi (licensing agreement) antara TNC dan Y-KAN mengenai kepatuhan hukum. Diduga, TNC telah lalai melakukan pengawasan terhadap kegiatan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) terhadap Y-KAN.

“Padahal Pasal 9 dari perjanjian lisensi (licensing agreement) menyebutkan TNC dan Y-KAN wajib memastikan seluruh kegiatan harus sesuai dengan hukum yang berlaku di Amerika Serikat dan Indonesia,” jelasnya.

Atas dugaan perbuatan melawan hukum tersebut, kata Adnan, menyebabkan ketidaknyaman di lingkungan bekerja bagi kliennya.

“Kami juga menuntut kedua LSM tersebut menyampaikan permintaan maaf melalui surat kabar yang memiliki peredaran nasional di Indonesia, yang isinya mengakui telah gagal menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di wilayah hukum Indonesia,” demikian Adnan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya