Berita

Bu Tejo dalam film fendek berjudul Tilik/Repro

Publika

Bu Tejo Dan Realitas Negeri Influencer

RABU, 26 AGUSTUS 2020 | 00:14 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

TENGGELAM dalam badai informasi. Peran Bu Tejo dalam film pendek Tilik, berdurasi 32 menit itu, membuat bingkai alur cerita yang sederhana menjadi ciamik. Drama yang tersaji dari produksi film tahun 2018 itu, masih relevan dengan situasi aktual.

Tidak heran, film pendek garapan rumah produksi Ravacana ini menjadi kampiun di beberapa festival film.

Bu Tejo adalah kita. Realitas yang mewakili bagaimana kehidupan sosial kita di era modern, yang difasilitasi dengan kemewahan digital.


Internet menjadi medium akselerasi informasi, sekaligus menciptakan ruang disinformasi. Konflik dan ketegangan juga tampil mengemuka melalui media sosial. Sisi baik buruk tidak terpisahkan.

Sekali lagi, film pendek Tilik secara ringkas merangkum perilaku sosial dari seluruh kehidupan kita. Tidak hanya di perkotaan, tetapi daya jangkau dunia maya sampai hingga pedesaan, membentuk perilaku baru dari masyarakat digital dalam jejaring sosial.

Perdebatan tentang ending film Tilik yang dianggap menciptakan dan memberikan ruang tafsir pembenaran bagi penyebar informasi keliru tanpa konfirmasi, hingga membentuk stereotip tentang perempuan pedesaan adalah bentuk keberhasilan film pendek itu untuk membangun ruang diskusi publik, lengkap dengan pro-kontra kehadirannya.

Rantai Influencer

Bila berkaca dengan menggunakan figur Bu Tejo, maka format komunikasi yang dibangun adalah model komunikasi dua tahap -two step flow, dengan melibatkan peran para pemimpin opini. Informasi yang tampil di sosial media, diterjemahkan oleh opinion leader untuk semakin meluaskan jangkauan informasi.

Hambatan dalam proses komunikasi tersebut adalah potensi missing link informasi. Jarak komunikasi yang semakin meluas, membuat kemungkinan distorsi informasi terjadi. Bisa berkurang, atau semakin bertambah dari informasi awal, atau bahkan berbeda dan berubah dari pesan informasi di bagian awal.

Bila Anda pernah melihat kuis di layar kaca, dengan model "pesan berantai", maka di bagian akhir penerima pesan diminta untuk mengungkapkan bagaimana bentuk konstruksi pesan awal dari pemberi pesan, maka kerap kali terjadi kehilangan potongan pesan.

Pada jagat digital, hal itu juga terjadi. Di dunia maya, yang mengijinkan user untuk menggunakan identitas semu bahkan anonymous, jelas semakin memperkeruh arus informasi yang tidak mampu diverifikasi. Kelemahan ini, dimanfaatkan untuk menciptakan ruang gema dan ruang simulasi dari kepentingan tertentu.

Tidak mengherankan bila kemudian profesi baru muncul dari dunia baru. Sebut saja, buzzer, influencer, penggiat sosial media, endorser muncul sebagai alat bantu meluaskan jaringan informasi.

Sifatnya organik berbasis sukarela dan kecintaan, tetapi ada juga yang anorganik menjadi semacam iklan pesanan. Berlaku di semua bidang, mulai dari pemasaran produk, politik, branding kandidat hingga pemerintahan.

Kemunduran Demokrasi

Berbagai kenyataan baru hadir bersama perkembangan ruang digital, termasuk kegagalan para pakar menghadirkan pencerahan. Peran kelompok intelektual dan akademisi justru semakin terdegradasi. Kalah lihai dibandingkan mereka yang lincah bermain di sosial media.

Keberadaan para pemimpin opini ini, tidak pelak menjadi pemberi pengaruh yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo, membalik posisi, menciptakan informasi keliru hingga memainkan berbagai instrumen digital untuk mencetak persepsi publik pada suatu isu tertentu.

Para pelaku digital ini, mampu mengemas konten dan konteks bersesuaian dengan kecenderungan publik yang terbatas dalam melakukan validasi informasi.

Tidak hanya itu, keahlian digital juga dimanfaatkan untuk melakukan pembungkaman dengan berbagai metode, mulai dari doxing -menyebarkan data pribadi, hingga melakukan teror digital, seperti hack akun sosial media hingga meretas portal laman digital. Varian baru dari ancaman fisik berubah menjadi cybercrime.

Sekurangnya upaya untuk melakukan serangan digital dialami Tempo.co yang berulang kali berbicara tentang perlunya penertiban aktivitas para buzzer dan influencer.

Lebih jauh lagi, sesuai dengan cermatan ICW dalam rilis terkait anggaran pemerintah untuk key opinion leader, menemukan kesimpulan penting (i) penggunaan influencer menjadi shortcut untuk mempengaruhi opini publik, (ii) memperburuk kesehatan demokrasi, sebagai akibat dari kehilangan substansi demokrasi, seiring dengan tertutupnya diskusi publik.

Benang merah dari simpulan sejenis juga diungkapkan LP3ES melalui rilis Pasang Surut Demokrasi Indonesia, mengutip Ziblatt & Levitsky, dalam buku How Democracy Die -2018, bahwa ancaman terhadap demokrasi terjadi ketika (i) komitmen atas aturan main semakin melemah, hingga (ii) terbatasnya ruang gerak kebebasan sipil serta media.

Kedua hal tersebut menjadi realitas dari dunia politik kita hari ini, terlebih ruh oposisi dari mekanisme politik formal menghilang ketika konsolidasi koalisi kekuasaan terbentuk.

Pada kajian LP3ES, pembenahan harus sesegera mungkin dilakukan agar demokrasi terselamatkan, meliputi perbaikan pada kerangka institusional, struktural hingga aspek kultural dan agensi.

Lebih jauh lagi, temuan LP3ES sekaligus memperingatkan kita tentang cengkraman oligarki yang semakin mencuat. Terlebih ketika kekuasaan mulai melindungi dan membentengi dirinya dengan buzzer serta influencer.

Sekali lagi karena gerik laku Bu Tejo adalah wajah kita!

Yudhi Hertanto

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya