Berita

Smart Helmet merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk menekan penularan Covid-19 di Brunei karena mampu mendeteksi suhu tubuh secara masif/Net

Dunia

Tidak Ada New Normal Di Brunei, Yang Ada Back To Normal

SELASA, 25 AGUSTUS 2020 | 11:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Brunei Darussalam merupakan salah satu negara tetangga Indonesia di kawasan ASEAN yang bisa diacungi jempol dalam hal penanganan pandemik virus corona atau Covid-19.

Bukan tanpa alasan, pasalnya, sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan di Brunei awal Maret lalu, tercatat ada kurang dari 150 kasus infeksi Covid-19 di negara kecil tersebut.

Lebih tepatnya ada 143 kasus Covid-19 dengan tiga di antaranya meninggal dunia dan 139 lainnya dinyatakan sembuh. Sedangkan satu pasien lainnya masih dalam perawatan saat ini.


Bukan hanya itu, sejak lebih dari 100 hari terakhir, negara kesultanan ini juga tidak menemukan adanya kasus infeksi Covid-19 baru.

Dutabesar RI untuk Brunei Darussalam, Dr. Sujatmiko, MA dalam acara webinar mingguan RMOL World View bertajuk "Kabar Dari Brunei Di Saat Covid-19" awal pekan ini menjelaskan bahwa keberhasilan itu tidak lepas dari sederet upaya yang dilakukan oleh pemerintah Brunei dan diamini oleh warganya.

Di antaranya adalah, Brunei memiliki UU yang mengatur soal penyakit menular. Sehingga ketika ada kasus penyakit menular yang dikonfirmasi, UU tersebut langsung diterapkan.

Pemerintah Brunei juga bergerak cepat dengan menerapkan langkah-langkah penutupan sejak awal.

"Masjid, restauran, mal dan tempat keramaian lainnya ditutup dan kemudian physical distancing juga diterapkan sejak awal," jelasnya.

"Negara ini juga menutup negaranya, tidak ada lagi penerbangan langsung ke luar negeri kecuali terbatas untuk mengangkut barang-barang kebutuhan pokok. Termasuk dengan Indonesia, yang selama ini kita punya jalur (penerbangan) khusus ke Jakarta, Surabaya dan Denpasar, sejak awal pandemik diputus," tambah Sujatmiko.

Namun bukan hanya menerapkan aturan dan pembatasan, pemerintah Brunei pun tidak segan untuk menggelontorkan dana hingga jutaan dolar AS untuk mengatasi Covid-19.

Langkah yang diambil oleh pemerintah Brunei diamini dan dipatuhi oleh mayoritas warga Brunei. Bukan hanya karena Brunei memiliki sistem denda yang tinggi bagi mereka yang melanggar peraturan, tapi juga kesadaran masyarakatnya yang tinggi.

"Sistem pemerintahannya juga beda dengan kita, warganya mudah diatur. Tidak terlalu banyak wacana, tidak ada orang yang mengklaim paling hebat. Jadi cepat diatasi. Warganya bersatu, united menghadapi Covid bersama-sama karena menyadari ini menjadi ancaman semuanya," paparnya.

Hal lain yang juga mendorong keberhasilan Brunei dalam menekan angka penularan Covid-19 adalah dengan melibatkan teknologi. Pemerintah Brunei membuat aplikasi yang disebut BruHealth.

"Semua orang Brunei mendaftar di aplikasi tersebut. Semua orang Brunei mendaftar di aplikasi ini sehingga pergerakan mereka terdeteksi," ungkap Sujatmiko.

Selain itu, jelasnya, ada juga Smart Helmet atau helm pintar yang biasanya digunakan petugas di tempat kerumunan. Helm tersebut dengan mudah memindai suhu seseorang.

"Jadi misal mau masuk ke masjid, ada orang berdiri pakai helm seperti org naik motor. Helm itu mendeteksi suhu orang dengan cepat. Jadi aman dilakukan dan bisa massal," tandasnya.

Setelah bebas dari kasus infeksi baru Covid-19 selama lebih dari 100 hari terakhir, kehidupan sehari-hari di Brunei pun berjalan normal.

"Protokol kesehatan masih diterapkan, orang masih diimbau untuk berhati-hati dan mengenakan masker di keramaian," kata Sujadtmiko.

Namun dia menjelaskan bahwa saat ini sangat jarang ditemui warga Brunei mengenakan masker, kecuali di tempat-tempat keramaian.

"Jadi orang sudah jarang pakai masker, orang jarang pakai tes suhu tubuh, kecuali di tempat ramai misalnya di mal atau masjid," unngkapnya.

"Jadi 'new normal'-nya Brunei menurut saya sudah seperti kembali ke normal betulan (back to normal). Sekolah dan kampus sudah kembali buka, mal toko dan kafe juga sudah beroperasi," demikian Sujatmiko.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya