Berita

Taiwan merupakan salah satu wilayah yang dianggap berhasil menangani pandemik Covid-19 dengan baik/Net

Dunia

Melihat Lebih Dekat 'Senjata Rahasia' Taiwan Lawan Pandemik Covid-19

MINGGU, 23 AGUSTUS 2020 | 20:54 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Taiwan merupakan salah satu "primadona" yang muncul di tengah pandemik virus corona atau Covid-19. Wilayah tersebut mendapatkan banyak pujian serta apresiasi atas keberhasilannya menekan angka penularan virus corona sejak awal pandemik. Padahal, wilayah itu dekat dengan daratan China, tempat di mana Covid-19 pertama kali menyebar.

Dalam sebuah webinar yang digelar oleh International Center for Journalists (ICFJ) beberapa waktu lalu, Kepala Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan, Jih-haw Chou membeberkan alasan mengapa Taiwan bisa mencapai keberhasilan tersebut.

Hal utama yang menyebabkan pandemik Covid-19 berhasil ditekan penularannya adalah karena ada respons terpusat terhadap penyakit menular yang dikembangkan oleh pulau tersebut setelah wabah SARS 2003.


Dari total populasi hampir 24 jiwa, Taiwan berhasil menekan angka penularan Covid-19 kurang dari 500 orang.

"Selama wabah SARS, kami (tidak) memiliki sistem komando terpusat," kata Chou.

"Pemerintah daerah selalu bertengkar dengan pemerintah pusat, dan masyarakat kehilangan orientasi. Mereka tidak tahu bagaimana mengikuti kebijakan kami," sambungnya, seperti dimuat dalam situs resmi ICFJ jelang akhir pekan ini.

Namun pasca wabah SARS melanda, Taiwan menulis ulang pedomannya untuk mengelola penyakit menular. Rencana terpusatnya bergantung pada pelacakan kontak, karantina, berbagi informasi di antara lembaga negara, dan pengiriman pesan terkoordinasi serta penjangkauan ke publik.

Sistem komando pusat tersebut pada akhirnya terbukti sangat sukses menghadapi pandemik Covid-19. Dampaknya, kehidupan di Taiwan saat ini terlihat normal, meski jika angka penyakit meningkat, pemerintah akan membatasi aktivitas sehari-hari.

Lebih lanjut Chou menjelaskan, karena masyarakat Taiwan pernah terluka oleh pandemi SARS, semua orang di wilayah tersebut, mulai dari pejabat hingga wartawan sangat memahami berita tentang Covid-19 dan siap untuk mengambil tindakan secepat mungkin pada akhir Desember 2019 ketika kasus pertama Covid-19 dikonfirmasi di China.

"Seluruh masyarakat sangat prihatin dengan berita dari daratan utama, terutama (tentang) penyakit menular (dari) China," ujarnya.

Kemudian pada bulan Januari, saat banyak negara belum banyak bertindak mencegah penularan Covid-19, Taiwan menghubungi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun karena tidak ada panduan segera dari WHO, Taiwan bergegas mengambil tindakan sendiri dengan melarang pelancong dari daerah yang terinfeksi di China memasuki Taiwan.

Bukan hanya itu, jelas Chou, pemerintah Taiwan dengan cepat mendorong kesiapan rumah sakit, pembuatan APD dan pembuatan tes diagnostik yang sangat akurat.

Belajar dari wabah SARS, otoritas Taiwan menyadari bahwa tes massal yang akurat memang penting. Namun upaya penggagalan penyebaran virus sejak awal juga tidak kalah pentingnya. Karena itulah Taiwan menerapkan karantina pasien yang dites positif.

"Jika kami dapat menahan mereka di rumah selama 14 hari, kami dapat menjamin mereka tidak menyebarkan virus," papar Chou.

"Kami memiliki sistem karantina yang sangat baik untuk memastikan mereka tetap tinggal di rumah (yang diwajibkan oleh hukum)," sambungnya.

Bukan hanya mendorong karantina, pemerintah Taiwan juga menyediakan pasokan makanan serta bantuan medis yang dibutuhkan oleh pasien Covid-19.

"Selama karantina, kami bisa menyediakan makanan, bantuan medis, dan mengirim orang untuk mengumpulkan sampah. Kami urus (pasiennya), tapi kami juga melayani," ujarnya.

"Itulah mengapa sistem karantina kami berhasil," tambah Chou.

Di sisi lain, Taiwan juga memiliki sistem rekam medis yang sepenuhnya elektronik. Sehingga akan lebih mudah bagi pihak terkait untuk melacak catatan rumah sakit terkait dan riwayat perjalanan seseorang. Hal itu mempermudah upaya untuk pelacakan kontak pasien Covid-19.

Untuk mengatasi masalah privasi dari publik, pemerintah Taiwan melakukan sosialisasi.

"(Kami melakukan) segala upaya untuk menjelaskan kepada orang-orang mengapa kami membutuhkan informasi ini dan bagaimana kami akan menggunakan semuanya," tambah Chou.

"Dan kami akan menjamin cakupan cara kami menggunakan informasi yang mereka berikan," jelasnya.

Chou juga menjelaskan bahwa pada awal pandemik Covid-19, Taiwan memiliki persediaan masker selama dua bulan, dan masih mengimpor masker dari China dan Filipina. Meski begitu, Taiwan tetapi dengan cepat meningkatkan kapasitas produksi dari sekitar 1,8 juta per hari pada bulan Januari menjadi 20 juta per hari pada akhir Mei.

"Kami juga mengoptimalkan distribusi ke warga kami," ujarnya seraya menambahkan bahwa pemerintah ingin menjaga harga masker tetap rendah dan menjamin setiap orang mendapat kesempatan untuk mendapatkan masker yang mereka butuhkan.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Memutus Urat Nadi Korupsi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:54

Festival Layanan AHU Berdampak 2026 Hadirkan Edukasi ke Masyarakat, Ini Lengkapnya

Minggu, 30 Agustus 2026 | 23:24

Gus Yusuf Legawa Sikapi Dinamika Muktamar ke-35 NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:49

Mendesak Para Kiai Sepuh Turun Tangan Meredam Suhu Panas Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:33

Jalan Sehat jadi Cara Hanura Kalsel Konsolidasikan Pemilu 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 22:15

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU: Sosok Kharismatik Penentu Rais Aam PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:45

TikTok dan Tokped Digugat Class Action Rp1,2 Triliun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 21:11

Ini 9 Ulama AHWA Terpilih Muktamar ke-35 NU, Suara Mbah Yai Da Paling Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:46

Dikawal DPR, Tagihan Rp158 Miliar PT Pos Akhirnya Dibayar Kemensos

Minggu, 30 Agustus 2026 | 20:04

Kiai Rembang Cium 'Hidden Agenda' Penjegalan Caketum PBNU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:56

Selengkapnya