Berita

Tangkapan layar video yang memperlihatkan pria tua diinterogasi sekelompok diduga ormas/Repro

Politik

Dituduh HTI, Pria Tua Diinterogasi Puluhan Pemuda Berbaju Loreng Mirip Banser

JUMAT, 21 AGUSTUS 2020 | 19:20 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Beredar video berdurasi 2 menit 20 detik di media sosial Twitter yang memperlihatkan seorang pria tua dikelilingi pemuda berbaju loreng-loreng mirip seragam Barisan Serba Guna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU).

Video tersebut diunggah oleh akun @Muslim_AntiPKI, Jumat (21/8) pukul 11.04 WIB dan mendapatkan ratusan like dan retweet.

Dalam video tersebut, tampak pria tua mengenakan peci putih berbaju batik diinterogasi dan disebut menyebarkan ideologi khilafah dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).


"Siapa pentolannya HTI? Sampeyan ambe po nyebarno ideologi HTI? (anda sama siapa mau menyebarkan ideologi HTI?)" tegas pria berbaju loreng bersongkok hitam dalam video.

Merasa diintimidasi, pria tua tersebut berulangkali bertanya mengenai kesalahannya kepada para pemuda yang mengerubunginya. Namun pria berbaju loreng tetap menuding pria tua tersebut sebagai penyebar ajaran yang dilarang.

"Lho wong wis dilarang kok salahnya? Opo bedane ambe PKI, wong wis dilarang ning negara iki, hayo aku kepengen weruh alesane? Kepengen ganti negoro iki tah? (sudah dilarang kok nanya salahnya, apa bedanya dengan PKI yang sudah dilarang di negara. Saya mau tahu alasannya, mau ganti negara ini?)" tegas pemuda berbaju lureng di video tersebut.

"Karena dilarang oleh UU. Perppu Nomor 2/2017 tidak boleh lagi ada, ya, organisasi HTI dan seluruh ideologinya. Itu salah," lanjutnya.

Tak terima dituduh, pria tua itu pun meminta pihak yang menuduhnya HTI dan menyebarkan ideologi khilafah untuk melaporkan ke pihak berwajib dengan menyertakan barang bukti.

"Kalau saya salah, saya laporkan ke polisi. Sampeyan (kalian) tunjukkan buktinya apa saya salahnya, nama saya Zainullah, terus salah saya apa?" ucap Zainullah dengan nada lembut.

Dengan nada tinggi, pria berbaju loreng itu pun menegaskan dengan kepada pria tua yang diketahui bernama Zainullah itu. "Salahnya nyebar ideologi khilafah. Iya apa enggak?" serunya.

"Buktinya mana sampeyan nuduh seperti itu," tanya pria tua yang mengaku bernama Zainullah.

Menurut pria berbaju loreng itu, Kepala Desa dan semua orang di kampung tersebut sudah mengetahui pergerakan dari Zainullah yang dianggap telah menyebarkan ideologi khilafah HTI.

"Laporkan ke polisi, ke Koramil, ke yang berwajib, nama Zainullah alamat ini salahnya ini, sampeyan tunjukkan buktinya sidang di pengadilan oke silakan. Iya silakan," ucap Zainullah menjawab.

"Saya pastikan akan saya laporkan," tekan pria berbaju loreng itu lagi.

Tak henti sampai di situ, pria berbaju loreng yang tidak diketahui namanya itu pun kembali menegaskan bahwa Zainullah telah menyebarkan ideologi khilafah hingga para pengikutnya menghina ulama Nahdlatul Ulama (NU) Habib Lutfi dan menghina NU itu sendiri.

"Ini, gara-gara ajarane sampeyan (ajaran anda), anak buahe sampeyan nginokno (anak buah anda menghina) habib Lutfi nginokno (menghina) NU," tegasnya.

Perdebatan keduanya berlangsung cukup lama hingga pria tua tersebut menyebut bahwa pria yang menekannya disebut sebagai salah seorang anggota DPR RI.

"Saya salah apa. Kalau saya salah, laporkan saja. Sampeyan punya bukti, sampeyan kan anggota DPR," kata Zainullah.

Lantas pria berbaju loreng itu pun menegaskan bahwa dirinya tidak mengatasnamakan anggota DPR. Namun, ia mengatasnamakan Ketua GP Anshor.

"Saya disini bukan atas nama anggota DPR. Saya atas nama ketua Anshor. Dan saya berkewajiban mengamankan wilayah saya dari ajaran khilafah," tekannya.

Lalu, Zainullah pun kembali menjawab bahwa dirinya mempersilakan jika GP Anshor untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib, yakni aparat penagak hukum atas tuduhannya itu.

"Ya silakan dilaporkan," demikian Zainullah.

Redaksi kemudian mengonfirmasi video tersebut kepada Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama, Gus Nabil Haroen. Ia belum mau bicara banyak dan akan menyelidiki lebih lanjut mengenai video yang viral tersebut.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya