Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Curhat Kesal Seorang Guru Di Serbia Saat Dikabarkan Sekolah Akan Dibuka Pada September Dengan Aturan Protokoler

RABU, 12 AGUSTUS 2020 | 06:45 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tim Krisis Serbia memutuskan siswa pendidikan dasar akan kembali ke ruang kelas pada awal tahun ajaran baru, yaitu September mendatang. Namun, keputusan itu malah membuat guru dan orangtua murid menjadi panik.

Dalam keputusan itu disebutkan hanya 15 siswa yang akan berada di ruang kelas selama 30 menit jam pelajaran dari yang biasanya 45 menit. Sehingga perlu adanya pembagian kelompok.

Selain jumlah dan waktu yang dipersingkat, aturan ketat lain yang harus diterapkan adalah penggunaan masker dan berada pada jarak fisik yang aman. Seluruh kelas dan lingkungan sekolah juga harus didisinfeksi setelah kelompok siswa pertama mengakhiri pelajaran.


Ketua Serikat Pendidik, Jasna Jankovic, mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan tidak berkonsultasi sebelumnya dengan para guru tentang dimulainya tahun ajaran baru pada 1 September ini. Sehingga hal itu membuat panik guru dan orangtua.

"Yang saya tahu semua orang menjadi panik. Guru, kepala sekolah, dan orang tua," kata Jankovic, seperti dikutip dari N1, Selasa (11/8).

Jankovic menambahkan, dengan adanya keputusan itu berarti sekolah akan membutuhkan dua guru jika siswa dibagi menjadi dua kelompok. Itu berarti mereka akan bekerja dengan shift ganda. Jika harus seperti itu maka dia menuntut kenaikan gaji sebesar 30 persen.

Dia juga memperingatkan bahwa banyak ruang kelas yang tidak cukup besar untuk menjaga jarak fisik antar murid.

"Masalah lainnya adalah kami telah memecat guru, petugas kebersihan, konseling, dan beberapa staf lainnya karena pandemik ini. Dan sekarang, Anda menuntut petugas kebersihan menjaga 450 meter persegi dalam 20 atau 30 menit?” kata Jankovic gusar.

“Saya tidak percaya Menteri Pendidikan Mladen Sarcevic tidak tidak tahu berapa lama seorang petugas kebersihan bekerja,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masalah orangtua dalam mengatur pengasuhan anak.
“Kami berharap Kementerian (Pendidikan) memberikan instruksi yang jelas kepada kami. Apa yang akan terjadi jika kami tidak memiliki cukup personel, siapa yang akan membayar untuk disinfektan, bagaimana kami mendapatkan semua itu. Kami memiliki sekolah tanpa air ledeng…,” kata Jankovic kesal.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya