Berita

Menkeu Sri Mulyani/Net

Bisnis

Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Merosot Hingga Minus 8,4 persen

SENIN, 10 AGUSTUS 2020 | 21:28 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia mengalami kontraksi yang cukup tajam. Hal ini dikarenakan, daerah-daerah tersebut memiliki kasus virus corona baru (Covid-19) sangat tinggi sehingga laju perekonomian melambat.

Begitu yang dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sesi video conference dengan awak media, Senin (10/8).

“Provinsi dengan kasus Covid-19 tertinggi cenderung menunjukan pertumbuhan ekonominya juga merosot secara sangat tajam. Kalau kita lihat dari mulai Bali dalam hal ini mengalami pertumbuhan kuartal 2 (Q2) kontraksi hingga 11 persen dimana total kasus 3.682,” ujar Sri Mulyani.


Mantan direktur Bank Dunia ini menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Pulau Bali merosot tajam lantaran tidak adanya turis yang datang.

Aktivitas masyarakat setempat juga dibatasi dengan adanya pandemik Covid-19. Tidak hanya di Bali sejumlah provinsi juga mengalami hal yang sama.

“Kemudian kita lihat disini Sumatera Selatan, Sulut, Nusa Tenggara Barat dan semua yang ada di provinsi masuk di atas 1.000 kasus Covid,” katanya.

Sementara itu, DKI Jakarta yang memiliki kasus Covid-19 terbesar di Indonesia. Pertumbuhan ekonominya terjun bebas di angka -8,4 persen.

“Kita lihat dalam gambar Jakarta episentrum mengalami GDP Q2 2020 kontraksi minus 8,4 persen. Dan karena kontribusi Jakarta sekitar 18 persen maka pengaruhnya terhadap perekonomian nasional jadi sangat signifikan. Dia 20 persen contributor Covid-19 secara nasional,” katanya.

Selain itu, di Provinsi Jawa Barat juga mengalami hantaman cukup keras dari Covid-19. Hingga memukul pertumbuhan ekonomi di atas lima persen.

“Kemudian, kita lihat provinsi jawa lain Jawa Barat kontraksi minus 6. Dalam hal ini share terhadap GDP 13,4 persen. jawa tengah kontraksi minus 6 juga sama share gdp 8,6. Jawa timur episentrum yang sangat penting. GDP kontraksi minus 5,9 persen,” bebernya.


“Daerah yang mengalami pandemik secara sangat besar maka pengaruh ekonomi lokalnya juga besar. Banten yang merupakan next to Jakarta kontraksi minus 7,4 persen,” tandasnya.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

IPW Dinilai Tidak Netral soal Evaluasi Pelaku Tambang Nikel

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47

Megawati Kirim Bunga Buat HUT Gerindra sebagai Tanda Persahabatan

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33

Tiga Petinggi PN Depok dan Dua Pimpinan PT Karabha Digdaya Resmi jadi Tersangka

Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13

Reaksi Menkeu Purbaya Ada Anak Buah Punya Safe House Barang Korupsi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37

Gerindra Sebar Bibit Pohon Simbol Keberlanjutan Perjuangan

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25

Gus Yusuf Kembali ke Dunia Pesantren Usai Mundur dari PKB

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15

Bahlil Siap Direshuffle Prabowo Asal Ada Syaratnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12

Dasco Jaga Kenegarawanan Prabowo dari Ambisi Jokowi

Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05

PDIP Tak Masalah PAN dan PKB Dukung Prabowo Dua Periode

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53

KPK Dikabarkan Sudah Tetapkan 5 Tersangka OTT Depok

Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29

Selengkapnya