Berita

Edhie Baskoro Yudhoyono/Net

Politik

Wasekjen Demokrat: Kok Partai Pendukung Pemerintah Kebakaran Jenggot Karena Pernyataan Mas Ibas?

JUMAT, 07 AGUSTUS 2020 | 21:30 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

DPP Partai Demokrat menyesalkan pihak-pihak yang terkesan "kebakaran jenggot" karena pernyataan Ketua Fraksi Partai Demorkat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) terkait kondisi perekonomian nasional di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang tumbuh rata-rata 6 persen.  

Wakil Sekjen Partai Demorkat Jansen Sitindaon mengatakan seharusnya pemerintah dengan kewenangan ektra power karena didukung UU 2/2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dapat membuahkan hasil.

Bukan justru terkesan lempar kesahalahan atas kegagalan mengelola ekonomi nasional dengan menyalahkan pemerintahan sebelumnya.


"Sudah berjalan hampir 6 bulan (UU 2/2020 berlaku), mestinya adalah sedikit tanda-tanda kemenangan kecil lah yang kita rasakan. Tapi faktanya tidak," kata Jansen Sitindaon kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Jumat (7/8).

Bahkan kata Jansen, dalam kondisi terkini dalam penanganan Covid-19 pun pemerintah tidak mampu berbuat banyak sekalipun sudah mengalokasikan anggaran yang cukup besar.

"Angka Covid-19 malah terus naik, tidak pernah sekalipun turun. Padahal dana untuk sektor kesehatan sudah besar. Bahkan di sisi lain ekonomi kita juga terus merosot, ambles. Harusnya ini jadi cermin bagi pemerintah. Bukan malah partai-partai pendukung pemerintah kebakaran jenggot dengar pernyataan Mas Ibas," jelasnya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi setiap kepemimpinan berbeda-beda. Karena itu, seharusnya pemerintah termasuk partai-partai pendukungnya saling membahu mengupayakan penanganan Covid-19 di Indonesia.

Meskipun, terkait kondisi ekonomi nasional jauh sebelum pagebluk Covid-19 faktanya terus melemah.

"Jauh sebelum badai Covid-19 menerpa, trend ekonomi kita dibawah pemerintahan ini memang terus turun. Itu fakta," tegasnya.

"Mau dituduh macem-macem pun, faktanya di masa SBY rata-rata pertumbuhan ekonomi kita 6 persen. Dan semua ikut menikmati termasuk yang ikut mencibir saat ini," katanya.

"Sedangkan yang katanya hebat cuma mentok 5 persen. Tak pernah sekalipun 6 persen selama 6 tahun ini. Kalau gagal tak usahlah kita sibuk ngumpulin seribu alasan. Lebih baik instropeksi diri," imbuh Jansen.

Selain itu, Jansen juga mengingatkan saat awal pemerintahan Presiden Joko Widodo bahwa era SBY meninggalkan 'warisan' anggaran negara yang cukup besar.  
"Perlu diingat, Pak Jokowi bisa membangun seperti sekarang ini ya karena diwarisi anggaran yang tinggi dari pemerintahan SBY. Coba kalau anggarannya sebesar yang ditinggalkan Ibu Mega, bisa bangun apa?" tekannya.

Lebih jauh daripada itu, Jansen menyatakan terkait infrastruktur di era SBY itu tidak hanya berorientasi pembangun infrastruktur fisik. Tetapi juga membangun kehidupan lain.

"Bahkan rakyat masih bisa menikmati subsidi dimasa susah. Utang pun tidak sebengkak sekarang. Tak mungkin ada presiden tidak membangun infrastruktur selama menjabat, ada-ada aja. Seperti Indonesia baru ada dimasa pemerintahan ini saja," pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya