Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Indonesia Terancam Resesi Imbas Corona, Arief Poyuono: Jokowi Sudah All Out Dan Berkerja Extra Ordinary

RABU, 05 AGUSTUS 2020 | 01:27 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Presiden Joko Widodo mengatakan jika perekonomian Indonesia di kuartal ketiga masih berada di angka minus, maka dirinya sudah tidak paham lagi bagaimana cara mengatasinya.

Hal itu, menjadi sinyal kepada para pembantu Presiden Jokowi untuk segera memaksimalkan dana corona yang nilainya hampir seribu triliun tersebut dan memberikan target kepada para menteri khususnya kementerian perekonomian untuk segera memulihkan ekonomi sebelum masuk ke kuartal ketiga.

Menyikapi hal tersebut, Waketum Gerindra Arief Poyuono menyampaikan, pernyataan itu tersebut bukan pesimisme atau pasrah dengan keadaan. Namun, menekankan dan berusaha untuk menyelamatkan ekonomi negara.


“Bukan pasrah. Namun, masih terus berusaha untuk menyelamatkan perekonomian nasional, agar tidak terpuruk,” kata Arief kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (4/8).

Menurutnya, saat ini presiden beserta jajarannya telah maksimal menangani masalah ekonomi akibat hantaman keras Covid-19.

“Saya rasa, sudah all out ya, Pak Joko Widodo bekerja secara extra ordinary untuk menyelamatkan ekonomi nasional. Memang penyerapan anggaran masih minim di dua bulan lalu namun sekarang sudah mulai bergerak,” katanya.

Arief memberikan catatan, pertumbuhan ekonomi naaional di angka minus bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

“Namun ya. Sebenarnya pertumbuhan ekonomi minus, bukanlah menandakan ekonomi kita itu terjun bebas, atau persoalan besar bagi kehidupan ekonomi kita dan bukan hal yang harus ditakuti,” ujarnya.

Arief mengatakan, kondisi riil ekonomi dengan adanya data pertumbuhan dari BPS sangat jauh berbeda. Sehingga, menurutnya resesi bukanlah akhir dari segalanya.

“Karena antara real ekonomi yang ada dan hitungan pertumbuhan ekonomi yang dihitung oleh BPS dengan ilmu statistik sebenarnya berbeda dengan keadaan perekonomian yang sebenarnya,” tandasnya.

“Pertanyaan, apabila dua kwartal dalam setahun pertumbuhan ekonomi minus berturut-turut, terus dianggap terjadi resesi ekonomi dan apakah sebuah negara perekonomian terhenti atau masyarakatnya kelaparan. Kan enggak juga,” tutupnya.

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya